GEMPA PALU, 2.900 Bangunan Diperkirakan Rusak Parah, Sebagian Tertelan Bumi

Setidaknya ada 2.900 bangunan rusak di tiga area dari lima area terdampak gempa dan tsunami.
Miftahul Ulum | 01 Oktober 2018 20:11 WIB
Personel TNI mengevakuasi korban gempa dan tsunami Palu-Donggala saat tiba di Lanud Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (1/10). Diperkirakan sejak evakuasi hari pertama melalui jalur udara sebanyak 2.000 warga korban gempa dan tsunami Palu-Donggala tiba di Makassar. - Antara

Bisnis.com, SURABAYA – Gempa yang 7,7 SR yang terjadi di Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018) diperkirakan merusak setidaknya 2.900 bangunan. Bahkan di daerah Balaroa dan Petobo ratusan perumahan runtuh dan terpendam bak ditelan bumi.

Permodelan dampak gempa dan tsunami yang dipublikasi lembaga yang konsen terhadap observasi bumi berbasis di Uni Eropa, Copernicus, menyebutkan setidaknya ada 2.900 bangunan rusak di tiga area dari lima area terdampak gempa dan tsunami.

Adapun lembaga internasional, European Commission, berkomitmen menyiapkan dana €1.5 juta untuk misi pendampingan kemanusiaan penanganan gempa dan tsunami palu.

Komisioner Humanitarian Aid and Crisis Management, Christos Stylianides mengatakan," Kami bertindak cepat dengan membuka saluran pertolongan kedaruratan yang bisa membantu Indonesia. Para donatur kami akan membantu kebutuhan dasar dan rentan seperti makanan, selter, air bersih dan obat-obatan. Ini bentuk solidaritas Uni Eropa. Kami meyakini dengan korban sebanyak itu maka respons berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan hidup."

Sementara dari Palu dilaporkan, ribuan korban gempa bumi di Palu, Donggala, dan Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah diperkirakan masih tertimbun tanah bersama bangunan di dua lokasi.

"Kami belum identifikasi di Perumnas Balaroa dan Kelurahan Petobo karena lokasinya sangat parah," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palu Fresly Tampubolon di Palu, Senin (1/10/2018).

Dua daerah tersebut, yakni Balaroa dan Petobo, merupakan pusat kerusakan paling dahsyat karena rumah dan fasilitas publik di titik itu tertimbun tanah bak ditelan bumi.

Menurut sejumlah saksi, beberapa detik setelah gempa 7,4 SR mengguncang Palu, wilayah kelurahan itu terlihat semburan air yang cukup tinggi, lalu tiba-tiba permukaan tanah menurun sehingga ikut menarik seluruh benda di atasnya.

Bahkan, beberapa bangunan seperti masjid bergeser jauh sekitar 50 meter dari posisi semula.

"Istri dan anak-anak saya tidak bisa diselamatkan. Saya perkirakan mereka terperangkap dalam rumah lalu digulung tanah," kata Husnan, salah seorang keluarga korban.

Saat kejadian, Husnan sedang berada di kantor, sedangkan istri dan anak-anaknya ada di rumah.

Kondisi yang sama juga terjadi di Kelurahan Kawatuna. Namun di lokasi itu disertai air sehingga belum memungkinkan disentuh oleh tim penanggulangan bencana.

Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said mengatakan belum tersentuhnya dua titik bencana terparah itu karena akses yang terputus.

Sigit mengatakan tim penanggulangan bencana memprioritaskan lokasi bencana yang dapat dijangkau cepat.

Sumber : Newswire, Antara, twitter

Tag : Gempa Palu
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top