Perang Dagang China-AS Kian Meruncing, Menlu Wang Yi: Biasa Saja

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengaku ‘biasa saja’ terkait gesekan yang terjadi antara Beijing dan Washington. Akan tetapi, dia mengingatkan agar tak ada pihak yang menyalahkan atau menekan China terkait dengan masalah perdagangan yang tengah terjadi.
Dhiany Nadya Utami | 29 September 2018 13:48 WIB
Menteri Luar Negeri China Wang Yi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengaku ‘biasa saja’ terkait gesekan yang terjadi antara Beijing dan Washington. Akan tetapi, dia mengingatkan agar tak ada pihak yang menyalahkan atau menekan China terkait dengan masalah perdagangan yang tengah terjadi.

Wang sebelumnya mengatakan kepada Komisi Hubungan Luar Negeri AS bahwa diperlukan aksi konret untuk memelihara relasi antara AS dan China. Dia menyebut semakin dekat keterlibatan AS—China maka kepentingan akan semakin terjalin erat dan memicu timbulnya berbagai kecurigaan serta gesekan.

“Ini tak mengeherankan dan tak ada alasan untuk panik. Hal yang paling penting adalah bagaimana perbedaan ini harus dilihat, dievaluasi, dan ditangani,” tuturnya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (29/9/2018).

Sebelumnya setelah berjumpa dengan Dewan Keamanan PBB pada Rabu (26/9/2018), Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tensi antara AS dan Beijing dengan menuduh China ikut campur dalam pemilihan Kongres AS pada 6 November silam untuk menghentikan Trump dan Partai Republik terkait kebijakan perdagangan dengan China.

Dalam kesempatan yang sama, Wang langsung menyanggah tuduhan tersebut. Menurutnya proteksi berlebihan hanya akan merugikan pihak itu sendiri dan kebijakan unilateral akan memberikan dampak negatif pada semua pihak.

“Mengenai gesekan yang timbul karena masalah perdagangan, kami tetap menganggap dialog yang setara sebagai cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Kami tak akan menyerah meski diperas dan ditekan,” tutur Wang.

Pria yang juga menjabat sebagai Penasihat Negara China ini juga membantah bahwa ada pemaksaan bagi perusahaan asing di China untuk mentransfer teknologi mereka dan mengesampingkan keluhan beberapa perusaahaan AS tentang kondisi pasar di China.

“Memang ada beberapa perusahaan yang merasa tidak puas, tapi kami tak menganggap itu sebagai representasi sebagian besar perusahaan [asing] yang ada,” sanggahnya.

Presiden Trump menuduh China mencuri properti intelektual AS selama ini. Selain itu dia juga menyebut China membatasi akses terhadap pasarnya sendiri serta memberikan subsidi yang berat sebelah dan condong ke industri lokal.

Trump juga memperpanjang perang dagang AS—China dengan menaikkan tarif sebesar untuk 6.000 produk China senilai US$200 miliar. Hal ini berbuntut dengan kebijakan serupa yang dirilis China yakni menambahkan tarif 5-10% untuk barang-barang AS senilai US$60 miliar.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top