Menteri Hanif Cerita Tentang Santri Harus Berpolitik

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) yang juga politisi Partai Kebangkitan Bangsa M Hanif Dhakiri mengingatkan para santri untuk berpegang pada fatsun politik santri
Anggara Pernando | 23 September 2018 06:05 WIB
Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri (kanan) meninjau posko satuan tugas (satgas) untuk pengaduan pekerja terkait masalah pembayaran tunjangan hari raya (THR) di Jakarta, Senin (28/5/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) yang juga politisi Partai Kebangkitan Bangsa M Hanif Dhakiri mengingatkan para santri untuk berpegang pada fatsun politik santri.

"Ada kelahiran datang ke kiai, ada kematian ke kiai, anak sakit ke kiai, anak lulus sekolah mau syukuran ke kiai, dan anak mau nikah ke kiai. Masa giliran politik tidak boleh ke kiai. Enak saja," kata Hanif melalui keterangan tertulis, Jumat (22/9/2019).

Dia mengingatkan, saat ini ada pandangan yang mengatakan politik itu kotor. Padahal seharusnya melihat politik sebagai hal yang baik.

"Saya ingin sampaikan bahwa politik itu hal yang mulia, politik hal yang sangat baik. Rasul berpolitik, sahabat berpolitik, tabiin berpolitik, tabiin tabiin berpolitik, kiai kiai kita berpolitik," katanya.

Hanif menyebutkan dalam pandangan Al-Ghazali, politik adalah usaha-usaha perbaikan manusia menuju jalan yang menyelamatkan kehidupan kita di dunia dan akhirat.

"Jadi itu arti politik yang sesungguhnya. Bila ada yang kotor, ada yang rusak pasti bukan politiknya tapi orangnya. Jangan sampai ada santri anti politik," katanya.

Lebih lanjut, Menaker Hanif mengatakan, politik itu sangat penting karena tujuan utama berpolitik untuk membentengi keyakinan dari tekanan kekuasaan.

"Akidah juga sangat diperlukan oleh politik karena politik kalau tidak didasari oleh akidah maka politiknya tidak maslahat, manfaat, dan berkah. Itulah kenapa politik dan agama tidak bisa dipisah-pisahkan," katanya.

Tag : Pemilu 2019
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top