AS Ingin Mulai Kembali Pembicaraan Dengan Korea Utara Setelah KTT

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo menyerukan putaran pembicaraan baru dengan Korea Utara dengan tujuan membersihkan senjata nuklir pada akhir masa jabatan paruh pertama Donald Trump.
Aprianto Cahyo Nugroho | 20 September 2018 08:12 WIB
Mike Pompeo - reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo menyerukan putaran pembicaraan baru dengan Korea Utara dengan tujuan membersihkan senjata nuklir pada akhir masa jabatan paruh pertama Donald Trump.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir Bloomberg, Pompeo pada Rabu (19/9/2018) mengatakan AS menyambut janji Kim Jong-un untuk membongkar tempat uji coba rudal dan menutup tempat produksi nuklir utama Yongbyon Korea Utara di bawah pengawasan para inspektur internasional, jika AS menerima apa yang disebut Korut sebagai “sesuai ukuran. "

Pompeo mengisyaratkan bahwa timbal balik mungkin akan terjadi.

"Atas dasar komitmen penting ini, AS siap untuk segera terlibat dalam negosiasi untuk mengubah hubungan AS-DPRK (Korea Utara)," kata Pompeo, seperti dikutip Bloomberg.

Pompeo mengundang Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho untuk menemuinya di New York pekan depan di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Selain itu, ia juga mengundang pejabat Korea Utara untuk bertemu utusannya yang bertanggungjawab atas masalah ini, Stephen Biegun, agar dapat memulai proses menuju denuklirisasi pada tahun 2021 dan "rezim perdamaian abadi dan stabil di Semenanjung Korea."

Frasa "rezim perdamaian abadi dan stabil di Semenanjung Korea” tersebut digunakan kedua belah pihak untuk menggambarkan perjanjian untuk mengakhiri Perang Korea yang tidak pernah dinyatakan secara resmi sebelumnya.

Korea Utara telah mengupayakan kesepakatan untuk mengakhiri perang, tetapi AS enggan untuk melakukannya karena khawatir hal itu akan menambah tekanan untuk menarik ribuan pasukan AS yang ditempatkan di Korea Selatan.

Pernyataan Pompeo ini menyusul dua hari pembicaraan antara Kim dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Meskipun kedua pihak memuji kemajuan, pembicaraan tersebut hanya memicu perdebatan lebih lanjut atas pertanyaan yang telah membingungkan orang luar selama ini: Apakah Korea Utara benar-benar siap untuk menyerahkan senjata nuklirnya?

Pernyataan Pompeo dan perjanjian yang ditandatangani Moon dan Kim di Pyongyang meninggalkan ruang untuk interpretasi dan menimbulkan keraguan mengenai apakah kedua belah pihak saling berbicara satu sama lain.

Bahkan, optimisme dan kepercayaan dari pernyataan Pompeo, yang ditambah dengan tweet Trump sendiri pada Selasa malam yang secara keliru mengatakan Kim telah "setuju untuk mengizinkan inspeksi nuklir" memicu spekulasi di kalangan analis Korea Utara bahwa AS dan Korut akan mengadakan pembicaraan secara terpisah yang muncul dengan serangkaian perjanjian yang berbeda.

Beberapa ahli mengambil pendekatan yang lebih lugas, mengatakan bahwa pernyataan Pompeo hanyalah upaya untuk menyamai kegairahan Trump sendiri. Meskipun Pompeo telah berulang kali mengungkapkan kehati-hatian terhadap kesepakatan tersebut, Trump mengumumkan ancaman nuklir Korut telah selesai dan menyatakan keyakinannya bahwa ia dapat membuat kesepakatan dengan Kim.

"Pernyataan itu datang beberapa jam setelah Presiden Trump menyambut hasil pertemuan antar-Korea, jadi saya memandang Pompeo sedang membaca situasi," kata Jung Pak, senior di Pusat Brookings Institution’s Center for East Asia Studies.

Tag : korea utara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top