Tingkatkan Tekanan Perdagangan, Trump Kenakan Tarif Impor China 10% Pekan Depan

Amerika Serikat akan mengenakan tarif 10% pada sekitar US$200 miliar barang-barang impor asal China pekan depan, dan akan ditinggatkan lebih dari dua kali lipat pada 2019.
Aprianto Cahyo Nugroho | 18 September 2018 07:27 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Amerika Serikat akan mengenakan tarif 10% pada sekitar US$200 miliar barang-barang impor asal China pekan depan, dan akan ditinggatkan lebih dari dua kali lipat pada 2019.

Menurut sumber dari pejabat pemerintahan yang diterima Bloomberg, pemerintahan Presiden Donald Trump tersebut memberikan peluang bagi bisnis di AS untuk menyesuaikan dan mencari rantai pasokan alternatif dengan menunda peningkatan tarif 25% hingga tahun depan. Tarif 10% akan berlaku pada 24 September.

"Selama berbulan-bulan, kami mendesak China untuk mengubah praktik tidak adil ini, dan memberikan perlakuan dan timbal balik yang adil kepada perusahaan-perusahaan Amerika," kata Presiden Donald Trump dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin malam, seperti dikutip Bloomberg.

"Kami telah sangat jelas mengenai jenis perubahan yang perlu dilakukan, dan kami telah memberi China setiap kesempatan untuk memperlakukan kami lebih adil. Tapi, sejauh ini, China tidak mau mengubah praktiknya," lanjutnya.

Jam tangan pintar dan perangkat Bluetooth telah dihapus dari daftar tarif, bersama dengan helm sepeda, kursi tinggi, kursi mobil anak-anak, playpens, dan bahan kimia industri tertentu. Barang-barang tersebut berada di antara 300 item yang telah dikurangi dari daftar target awal yang dirilis pada bulan Juli. Tidak ada barang yang ditambahkan, meskipun nilainya akan tetap senilai US$200 miliar.

Trump terus meningkatkan tekanan pada Beijing untuk mengubah praktik perdagangannya bahkan saat ia membuat gagasan pembicaraan. Sementara itu, sejumlah pebisnis memperingatkan strategi yang berisiko tinggi tersebut dapat membalikkan rantai pasokan mereka dan menaikkan biaya, karena para ekonom khawatir taktik Trump dapat menggagalkan peulihan global secara luas dalam beberapa tahun.

"Tampaknya pemerintah menanggapi beberapa kekhawatiran industri, tetapi bagi banyak bisnis dan konsumen di AS, ini masih merupakan percepatan biaya yang cepat dan ketidakpastian yang jauh lebih tinggi," kata Rufus Yerxa, presiden Dewan Perdagangan Luar Negeri Nasional.

“Bisnis membenci ketidakpastian. Mereka lebih suka memiliki hubungan perdagangan yang tidak sempurna daripada banyak kekacauan seperti ini,” lanjutnya.

Di lain pihak, China telah mengatakan akan membalas terhadap pengenaan tarif impor oleh AS dengan mengenakan bea atas US$60 miliar barang impor asal AS mulai dari gas alam cair hingga pesawat.

Keputusan tersebut menimbulkan keraguan untuk mencapai terobosan diplomatik dalam konflik perdagangan. China kemungkinan akan menolak pembicaraan perdagangan baru jika Trump tetap maju dengan tarif impor AS untuk produk China, dua orang yang akrab dengan masalah tersebut mengatakan pada hari Senin.

Pemerintahan awal bulan ini mengemukakan gagasan pembicaraan yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Steven Mnuchin, dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He yang diharapkan memimpin delegasi Beijing. AS masih terbuka untuk melakukan perundingan, asalkan China harus menunjukkan bahwa mereka dengan serius bersedia melakukan perubahan ekonomi sistemik.

Dengan eskalasi tarif baru tersebut , konsumen di AS bisa mulai merasakan biaya dalam barang sehari-hari. Ini membuat seluruh impor China yang dikenai tarif tambahan mencapai US$250 miliar, setengah dari pengiriman China ke AS tahun lalu.

Sebelumnya, pemerintahan Trump pada bulan Juli dan Agustus telah memberlakukan tarif 25% pada US$50 miliar barang-barang impor China, yang memicu tindakan balasan oleh China.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top