Hadapi Kebijakan Tarif Impor Trump, Kelompok Industri di AS Bangun Koalisi

Lebih dari 60 kelompok industri di Amerika Serikat membangun koalisi untuk bersiap menghadapi pertarungan setelah berbulan-bulan melancarkan perang di belakang layar terhadap tarif perdagangan Presiden Donald Trump yang telah meningkat jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan
Aprianto Cahyo Nugroho | 12 September 2018 12:17 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. - REUTERS/Jonathan Ernst

Kabar24.com, JAKARTA – Lebih dari 60 kelompok industri di Amerika Serikat membangun koalisi untuk bersiap menghadapi pertarungan setelah berbulan-bulan melancarkan perang di belakang layar terhadap tarif perdagangan Presiden Donald Trump yang telah meningkat jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan

Kelompok koalisi yang bernama Americans for Free Trade tersebut diinisiasi setelah Trump menggunakan penerapan tarif impor senilai miliaran dolar sebagai ancaman untuk memenangkan konsesi atau dengan keyakinan akan menciptakan lapangan kerja di AS.

"Banyak kelompok kepentingan lain berpikir pemerintah Trump tidak akan bertindak sejauh itu, tetapi efek bertingkat dari tarif impor akhirnya membuat setiap orang mengatakan: 'Cukup sudah,'" kata Nicole Vasilaros, pelobi atas untuk Asosiasi Produsen Kelautan Nasional, seperti dikutip Reuters.

Trump telah memberlakukan tarif 25% pada barang-barang impor dari China senilai US$ 50 miliar, sebagian besar merupakan mesin industri dan komponen elektronik menengah seperti semikonduktor.

Selain itu, AS juga akan mengenakan tarif terhadap barang impor lainnya senilai US$200 miliar yang akan meluas ke barang-barang konsumsi, serta ancaman tambahan senilai US$267 miliar yang akan mencakup hampir seluruh ekspor China ke AS.

China telah mengancam melakukan tindakan pembalasan, yang dapat mencakup tindakan terhadap perusahaan AS yang beroperasi di negeri Panda tersebut.

Koalisi bisnis tersebut terdiri dari kelompok yang mewakili beberapa perusahaan terbesar di AS, di antaranya American Petroleum Institute, yang mewakili penyuling terbesar seperti Exxon Mobil Corp dan Chevron Corp, dan Asosiasi Pemimpin Industri Ritel, yang mewakili perusahaan seperti Target Corp dan Autozone Inc.

"Telah banyak yang diperbuat selama delapan bulan terakhir untuk mencoba membujuk presiden dan pemerintah bahwa penerapan tarif tidak akan berhasil. Pandangan kami adalah bahwa itu belum terlambat," kata Dean Garfield, kepala eksekutif Dewan Industri Teknologi Informasi, yang anggotanya termasuk Microsoft Corp, Alphabet Inc, dan Apple Inc.

Sementara Trump mengancam tarif impor dan mengakhiri partisipasi AS dalam Trans Pacific Partnership, beberapa pengamat menganggap ancamannya serius.

Sejak saat itu, Trump telah menunjukkan bahwa ia serius dalam hal tarif impor, meningkatkan serangan terhadap China, mengancam pungutan impor mobil dan mendorong Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) yang lebih pro-AS, bahkan dengan risiko mengakhiri pakta tiga negara tersebut.

Dipimpin Kelompok Ritel

Koalisi dimulai dari pertemuan industri mingguan yang diselenggarakan oleh National Retail Federation (NRF), yang anggotanya termasuk Amazon.com, Macy's Inc dan Walmart Inc.

"Hhampir setiap sektor ekonomi di AS terlibat," kata David French, pelobi atas NRF.

Kelompok ini akan menargetkan anggota Kongres Partai Republik di lima negara bagian, Ohio, Pennsylvania, Illinois, Indiana dan Tennessee. Meskipun tidak terlibat dalam pemilihan menjelang pemilihan 6 November di mana kontrol Kongres dipertaruhkan, koalisi akan mendorong konstituen untuk membahas masalah perdagangan dengan anggota parlemen.

Kelompok ini juga berencana untuk memperluas upaya tersebut ke lebih dari belasan negara bagian pada akhir tahun ini.

Anggota Kongres telah gagal untuk memperlambat gerak kebijakan proteksionisme Trump dan beberapa lainnya tidak bersedia berbicara secara terbuka karena takut membangkitkan kemarahan Trump dan basis partai Republiknya.

Koalisi berharap untuk mendorong anggota parlemen Republik untuk menekan Trump agar membatalkan pengenaan tarif dengan meyakinkan bahwa kebijakan perdagangannya dapat memundurkan dorongan pajak dan deregulasi.

"Dorongan tinggi dari pengurangan pajak dan deregulasi yang telah menopang pasar saham sejak presiden terpilih berada dalam bahaya," kata Gary Shapiro, kepala Asosiasi Teknologi Konsumen, yang anggotanya termasuk IBM Corp dan Facebook Inc.

Sementara itu, Steve Pasierb, kepala Asosiasi Mainan, mengatakan anggota Kongres lambat untuk percaya bahwa mereka perlu khawatir.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top