Kejagung Diam-diam Periksa Karen Agustiawan

Kejaksaan Agung (Kejagung) diam-diam memeriksa bekas Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi investasi perusahaan di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009.
Sholahuddin Al Ayyubi | 12 September 2018 20:21 WIB
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Adi Toegarisman (kanan) - Bisnis/Nirmala Aninda
Bisnis.com, JAKARTA--Kejaksaan Agung (Kejagung) diam-diam memeriksa  bekas Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi investasi perusahaan di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009.
 
Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAMPidsus) Adi Toegarisman mengakui mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan tersebut telah diperiksa sejak pukul 09.00 WIB-14.00 WIB untuk diperiksa sebagai saksi. Namun, setelah diperiksa, Karen Agustiawan dibebaskan tidak seperti kedua anak buahnya yang langsung ditahan usai diperiksa yaitu mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu Kristanto dan Mantan Direktur Keuangan PT Pertamina Frederik Siahaan.
 
"Memang benar yang bersangkutan (Karen Galaila Agustiawan) sudah diperiksa tadi pagi," tuturnya, Rabu (12/9).
 
Adi membantah Karen Galaila Agustiawan diperiksa sebagai tersangka dalam perkara yang merugikan negara sebesar Rp568 miliar tersebut. Menurutnya, mantan Direktur Utama PT Pertamina itu diperiksa hanya untuk dimintai keterangannya sebagai saksi untuk tersangka lainnya.
 
Padahal, tim penyidik JAMPidsus Kejaksaan Agung sudah melakukan panggilan sebagai tersangka 2 kali dan diancam akan dipanggil paksa jika mangkir pada panggilan yang ketiga.
 
"Diperiksa sebagai saksi saja," katanya.
 
Pada kasus tersebut, Kejaksaan Agung sebelumnya juga telah melakukan penahanan terhadap mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu Kristanto. Namun, sampai saat ini, mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan dan Chief Legal Council and Compliance PT Pertamina Genades Panjaitan yang sudah ditetapkan sebagai tersangka bersamaan masih bebas berkeliaran.
 
Seperti diketahui, Kasus tersebut terjadi pada 2009, di mana Pertamina melalui anak peru­sahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melakukan akui­sisi saham sebesar 10% terhadap ROC Oil Ltd, untuk menggarap Blok BMG.
 
Perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase -BMG Project diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transak­sinya mencapai US$31 juta.
 
Akibat akuisisi itu, Pertamina harus menanggung biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar US$26 juta. Melalui dana yang sudah dike­luarkan setara Rp 568 miliar itu, Pertamina berharap Blok BMG bisa memproduksi minyak hingga sebanyak 812 barrel per hari. 
 
Ternyata Blok BMG hanya dapat bisa menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebe­sar 252 barel per hari. Pada 5 November 2010, Blok BMG ditutup, setelah ROC Oil me­mutuskan penghentian produksi minyak mentah. Alasannya, blok ini tidak ekonomis jika diteruskan produksi. 
 
Investasi yang sudah dilaku­kan Pertamina akhirnya tidak memberikan manfaat maupun keuntungan dalam menambah cadangan dan produksi minyak nasional. 
 
Hasil penyidikan Kejagung menemukan dugaan penyim­pangan dalam proses pengusu­lan investasi di Blok BMG. Pengambilan keputusan in­vestasi tanpa didukung feasi­bility study atau kajian kelayakan hingga tahap final due dilligence atau kajian lengkap mutakhir. Diduga direksi mengambil keputusan tanpa persetujuan Dewan Komisaris. Akibatnya, muncul kerugian keuangan negara cq Pertamina sebesar US$31 juta dan US$ 26 juta atau setara Rp568 miliar.
 
Tag : pertamina
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top