PILPRES 2019: Mengapa Mesti Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno?

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menegaskan calon presiden (capres) Joko Widodo (Jokowi) memilih Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres, karena kompromi dengan elite parpol pendukungnya.
Nancy Junita | 10 Agustus 2018 13:21 WIB
Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo (kiri) dan Ma'ruf Amin (kanan) berbincang seusai mendaftarkan diri di gedung KPU, Jakarta, Jumat (10/8/2018). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA – Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menegaskan calon presiden (capres) Joko Widodo (Jokowi) memilih Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres, karena kompromi dengan elite parpol pendukungnya.

Menurut Burhanuddin, figur  Ma’ruf yangg sudah tua tidak mengirim ancaman kepada elite-elite parpol pada 2024. Berbeda dengan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD yang masih relatif muda.

Selain itu, menurut Burhanuddin, Jokowi memilih Ma’ruf karena ada penolakan yang kencang dari PKB dan Golkar  terhadap Mahfud MD. Hal ini bisa membuka pekuang lahirnya poros ketiga yang akan mengurangi peluang menangnya Jokowi pada Pilpres 2019.

Sementara, Prabowo Subianto memilih Sandiaga Uno lebih karena kegagalan komunikasi antara Demokrat yang mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres Prabowo dengan PAN dan PKS yg mengusung elite sendiri.

“Mereka sebagai pendamping Prabowo juga. Bagi PKS dan PAN, lebih baik dicari figur di luar PKS, PAN dan Demokrat agar bisa diterima semua partai pendukung. Tentu Sandi juga punya kekuatan logistik yang mampu menjadi ‘oli’ pemenangan partai-partai koalisi Prabowo,” jelas Burhanuddin.

Seperti diberitakan sebelumnya, setelah melalui jalan panjang, diskusi dan perenungan, akhirnya Jokowi memilih Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya.

Jokowi dan 9 ketua umum parpol pengusung dan pengusulnya, akhirnya sepakat memilih Ma’ruf Amin. Pilihan Jokowi ini memunculkan pro-kontra di kalangan warganet, khususnya para pendukung Jokowi dan Ahok (Ahoker).

Untuk memilih cawapres, Prabowo Subianto juga melalui proses dan negosiasi panjang dengan para elite parpol pengusungnya. Pemilihan Sandiaga Uno diwarnai ketegangan antara Partai Demokrat dengan Gerindra, PAN, dan PKS.

Walau pada akhirnya, Jumat (10/8/2018) pagi, akhirnya Demokrat memutuskan mendukung Prabowo dan Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pilpres 2019

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top