Elon Musk Berencana Bawa Tesla "Go Private"

Chief Executive Tesla Inc Elon Musk tengah mempertimbangkan membawa perusahaan yang didirikannya itu go private.\n 
Annisa Margrit | 08 Agustus 2018 10:17 WIB
Tesla - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Chief Executive Tesla Inc Elon Musk tengah mempertimbangkan membawa perusahaan yang didirikannya itu go private.
 
"Saya mempertimbangkan membawa Tesla menjadi perusahaan privat di harga US$420. Pendanaan sudah aman," ujarnya melalui Twitter, Selasa (7/8/2018) waktu setempat.
 
Dengan harga US$420 per saham, maka kesepakatan itu akan bernilai US$72 miliar atau lebih dari Rp1.039 triliun. 
 
Harga tersebut merupakan harga premium, 23% lebih tinggi dari harga penutupan Tesla pada perdagangan sehari sebelumnya yang memberikan valuasi pasar senilai US$58 miliar atau sekitar Rp837,58 triliun atas perusahaan itu.
 
Saat ini, Musk menguasai 20% saham perusahaan. Dia mengklaim go private tidak akan mengubah posisinya sebagai CEO dan jumlah kepemilikan sahamnya tidak akan bertambah. 
 
Musk juga memberikan opsi kepada para pemegang sahamnya, yakni untuk menjual sahamnya atau tetap menjadi investor ketika Tesla sudah menjadi perusahaan tertutup. Namun, dia berharap para investor bakal tetap bersama Tesla.
 
Seperti dilansir dari Reuters, Rabu (8/8), Musk beralasan langkah itu merupakan yang terbaik bagi perusahaan karena akan membuat Tesla bebas dari gangguan dan terlalu banyak strategi jangka pendek. Menurutnya, menjadi perusahaan publik berarti ada terlalu banyak pihak yang bisa menyerang perusahaan. 
 
Saat ini, perusahaan yang memproduksi kendaraan listrik itu tengah mendapat tekanan besar karena terus kehilangan uang dan memiliki utang yang besar. Selain itu, makin banyak pabrikan otomotif besar yang mengembangkan mobil listrik, seperti Audi dan Jaguar. 
 
Tesla masih berupaya memperbaiki berbagai masalah produksi di pabriknya di Fremont, California, AS yang membuat produksi sedan Model 3 mereka tertunda. Padahal, mobil terbaru ini menjadi andalan pendapatan bagi perusahaan.
 
"Musk tidak ingin menjalankan perusahaan publik," ujar Gene Munster dari Loup Ventures. 
 
Namun, para analis meragukan realisasi rencana ini karena besarnya dana yang dibutuhkan di tengah arus kas perusahaan yang negatif.
 
"Saya tidak bisa membayangkan siapapun akan mendanai akuisisi perusahaan yang penuh dengan liabilitas, kehilangan begitu banyak uang, dan memiliki banyak kebutuhan belanja modal ke depannya," papar Portfolio Manager Stanphyl Capital Partners Mark Spiegel.
 
Para bankir menilai mitra yang paling mungkin bekerja sama dengan Musk adalah Sovereign Wealth Fund (SWF) seperti Public Investment Fund (PIF) milik Pemerintah Arab Saudi atau perusahaan investasi teknologi besar macam Vision Fund kepunyaan SoftBank Group Corp.  
 
Tencent Holdings, perusahaan asal China yang mengakuisisi 5% saham Tesla pada 2017, juga bisa menjadi mitra potensial.
 
Belum lama ini, Tesla menjalin kerja sama dengan Pemerintah China dalam pembangunan pabrik di Shanghai. Pabrik tersebut diproyeksi membutuhkan dana US$2 miliar atau sekitar Rp28,9 triliun.

Sumber : Reuters

Tag : elon musk, tesla
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top