AS Akan Berlakukan Tarif 25% Atas Impor China Pada 23 Agustus

Amerika Serikat mengatakan akan mulai mengenakan tarif impor 25% atas produk China senilai US$16 miliar dalam dua pekan mendatang.
Aprianto Cahyo Nugroho | 08 Agustus 2018 07:34 WIB
Presiden China Xi Jinping berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump (paling kanan). Ikut mendamping Ibu Negara China Peng Liyuan saat makan malam pada awal pertemuan puncak 6-7 April 2017 di Florida. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Amerika Serikat mengatakan akan mulai mengenakan tarif impor 25% atas produk China senilai US$16 miliar dalam dua pekan mendatang.

Dilansir Bloomberg, Kantor Perwakilan Perdagangan AS mengatakan Bea Cukai AS akan mulai mengenakan bea pada 279 lini produk, turun dari 284 produk pada daftar awal, pada 23 Agustus mendatang. Daftar baru ini mencakup produk mulai dari sepeda motor hingga turbin uap.

Ini akan menjadi yang kedua kalinya AS mengenakan bea atas barang-barang impor China, meskipun ada keluhan dari perusahaan-perusahaan AS bahwa langkah tersebut akan meningkatkan pengeluaran dan akhirnya meningkatkan harga di level konsumen.

AS sebelumnya menerapkan tarif impor 25% pada produk asal China senilai US$34 miliar pada tanggal 6 Juli, yang mendorong tindakan pembalasan. China telah berencana mengenakan tarif impor pada barang asal AS senilai US$16 miliar.

Perwakilan Perdagangan AS sedang mengkaji 10% tarif pada lebih dari US$200 miliar impor Cina, dan bahkan mempertimbangkan menaikkan tarif hingga 25%. Tarif impor tersebut dapat diberlakukan setelah periode komentar berakhir pada 5 September.

Presiden Donald Trump telah menyarankan dia dapat mengenakan pajak secara efektif atas semua impor barang-barang China, yang mencapai lebih dari US$500 miliar tahun lalu.

Oxford Economics mengatakan dalam sebuah penilitian bahwa perang perdagangan AS-China akan mengurangi output global sebesar 0,7% pada 2020, dengan ekonomi China turun hingga 1,3% dan PDB AS turun 1%.

“Meskipun tidak ada risiko besar dunia jatuh ke dalam fase stagflasi yang merusak, kemungkin berupa ledakan besar yang secara tajam mengurangi perdagangan, seperti pada 1930-an, tetap ada,” ungkap penelitian tersebut, seperti dikutip Bloomberg..

Di Atas Angin

Selama akhir pekan, Trump mengatakan dia berada di atas angin dalam perang dagang, sementara Beijing menanggapi melalui media pemerintah dengan mengatakan siap untuk bertahan atas kejatuhan ekonomi.

AS dan China telah mencoba untuk memulai kembali perundingan tingkat tinggi yang berhenti setelah Trump menindaklanjuti ancaman tarifnya. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Wakil Perdana Menteri China Liu He juga dikabarkan tengah melakukan percakapan pribadi untuk mencari cara dimulainya kembali negosiasi.

Kedua pihak mengadakan tiga putaran pembicaraan resmi, dimulai dengan delegasi ke Beijing yang dipimpin oleh Mnuchin pada bulan Mei. Setelah Liu mengunjungi Washington akhir bulan yang sama, kedua negara merilis pernyataan bersama yang salah satunya berupa janji untuk mengurangi defisit perdagangan AS dengan China.

Tetapi dalam beberapa hari, Trump sendiri mundur dari kesepakatan, mengatakan pembicaraan “mungkin harus menggunakan struktur yang berbeda."

Negosiasi terputus setelah pemerintahan Trump memberlakukan tarif pada US$34 miliar barang impor China, yang dianggap sebagai langkah yang akan membatalkan janji-janji yang mereka buat dalam negosiasi.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top