Pangeran Mohammed Usir Dubes Kanada, Arab Saudi Bekukan Perdagangan

Kerajaan Arab Saudi menyatakan pihaknya telah mengusir Duta Besar Kanada dan memanggil duta besarnya di negara itu sekaligus membekukan semua perdagangan baru sebagai bentuk protes atas seruan kuat Ottawa untuk membebaskan aktivis yang dipenjara.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 06 Agustus 2018  |  10:55 WIB
Pangeran Mohammed Usir Dubes Kanada, Arab Saudi Bekukan Perdagangan
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman - Reuters/Joshua Roberts

Bisnis.com, JAKARTA - Kerajaan Arab Saudi menyatakan pihaknya telah mengusir Duta Besar Kanada dan memanggil duta besarnya di negara itu sekaligus membekukan semua perdagangan baru sebagai bentuk protes atas seruan kuat Ottawa untuk membebaskan aktivis yang dipenjara.

Kerajaan memberi Duta Besar Kanada 24 jam untuk meninggalkan negara itu. Arab Saudi menyebut Kanada telah menggangu urusan dalam negerinya.

Tindakan tegas itu diambil Putra Mahkota Mohammed bin Salman setelah Kanada menuntut pembebasan segera para aktivis hak asasi manusia yang ditangkapi dalam satu tindakan tegas baru-baru ini.

"Kanada telah campur tangan terang-terangan dalam urusan internal Kerajaan Arab Saudi," menurut cuitan Twitter Kenneu Arab saudi sebagaimana dikutip channelnewsasia.com, Senin (6/8/2018). 

"Kerajaan memanggil duta besarnya di Kanada untuk berkonsultasi. Kami mempertimbangkan duta besar Kanada untuk kerajaan persona non grata dan memerintahkan dia untuk pergi dalam 24 jam ke depan, " menurut pernyataan pers tersebut.

Kementerian perdagangan juga mengumumkan pembekuan semua transaksi perdagangan dan investasi baru dengan Kanada, namun tetap memiliki hak untuk mengambil tindakan lebih lanjut.

Kanada pekan lalu mengatakan "sangat prihatin" atas gelombang baru penangkapan aktivis perempuan dan hak asasi manusia di kerajaan itu, termasuk aktivis hak-hak gender pemenang penghargaan, Samar Badawi.

"Kami mendesak Pemerintah Saudi untuk segera membebaskan mereka dan semua aktivis #humanrights damai lainnya," meurut kementerian luar negeri Kanada Jumat lalu.

Badawi ditangkap bersama dengan rekan kampanye Nassima al-Sadah pekan lalu, korban terbaru dari apa yang disebut Human Rights Watch sebagai "tindakan keras pemerintah yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap gerakan hak-hak perempuan".

Penangkapan itu terjadi berminggu-minggu setelah lebih dari selusin juru kampanye hak perempuan ditahan dan dituduh merusak keamanan nasional dan berkolaborasi dengan musuh negara. Beberapa telah dirilis.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyuarakan kemarahan atas pernyataan Kanada.

"Menggunakan ungkapan 'segera dirilis' dalam pernyataan Kanada sangat disayangkan, tercela, dan tidak dapat diterima dalam hubungan antarnegara," kementerian itu men-tweet.

Pangeran Mohammed, pewaris tahta terkuat di wilayah itu, telah memperkenalkan serangkaian reformasi seperti mencabut larangan selama beberapa dasawarsa terhadap para pengemudi perempuan dalam upaya memperbaiki citra keras kerajaan saat mempersiapkan era pasca-minyak.

Pria berusia 32 tahun secara bersamaan mengejar kebijakan luar negeri yang agresif, sementara menangkis perbedaan pendapat dan memperkuat cengkeramannya pada kekuasaan.

"Pecahnya hubungan diplomatik Saudi dengan Kanada memperkuat bagaimana Arab Saudi 'baru' yang dibentuk oleh Mohammed bin Salman tidak berkeinginan untuk mentolerir segala bentuk kritik atas penanganan urusan domestiknya," kata Kristian Ulrichsen, seorang rekan di Rice. Universitas Baker Institute diAmerika Serikat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
arab saudi

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top