Pilpres 2019 : Maraknya OTT Bisa Ganggu Partisipasi Publik

Peneliti LIPI Siti Zuhro mengatakan tidak ada jaminan peningkatan partisipasi publik untuk mengikuti pemilu legislatif dan pemilu presiden yang disenggarakan serentak pada 2019 mengingat kepercayaan publik kepada partai politik terus turun.
John Andhi Oktaveri | 29 Juli 2018 17:00 WIB
Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan (kiri) beserta tim menunjukkan barang bukti OTT Aceh pada Rabu (4/7/2018) malam. - Bisnis.com/Rahmad Fauzan

Bisnis.com, JAKARTA—Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro mengatakan tidak ada jaminan peningkatan partisipasi publik untuk mengikuti pemilu legislatif dan pemilu presiden yang disenggarakan serentak pada 2019 mengingat kepercayaan publik kepada partai politik terus turun.

Menurutnya, sebagian masyarakat mulai kehilangan kepercayaan kepada parpol dan pengurus partai. Pasalnya, banyak pengurus partai yang tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selain pejabat politik yang diusung parpol itu sendiri.

Siti mencontohkan maraknya operasi tangkap tangan terhadap para kepala daerah akhir-akhir ini. Terakhir Bupati Lampuang Selatan, Zainudin Hasan yang ditangkap KPK karena kasus suap.

Menurutnya, masyarakat kian cerdas melihat parpol mana yang kadernya banyak terlibat korupsi sehingga memengaruhi elektabilitas parpol tersebut.

Hanya saja, ujarnya terlepas dari tingkat partisipasi publik dalam pemilu, parpol-parpol lama yang sudah punya infrastruktur partai kuat di daerah-daerah akan diuntungkan karena parpol tersebut akan tetap bertahan.

Sedangkan bagi parpol peserta pemilu yang baru harus bekerja keras untuk bisa lolos ke DPR karena berlaku parliamentary threshold (PT) 4% secara nasional.

“Partai yang sudah punya basis massa kuat, yang punya akar tunggang, yang akan bertahan,” ujarnya kepada Bisnis ketika dihubungi, Minggu (29/7).

Dia mencontohkan tiga partai utama yang diperkirakan akan bertahan di tiga besar, yakni, PDIP, Gerindra, dan Partai Golkar. Apalagi, kalau ketiga partai itu mengusung calon presiden dan calon wakil presiden, ujarnya.

Dia memprediksi sulitnya bagi parpol baru untuk masuk ke Senayan karena ketiga parpol besar bisa meraup 50% suara secara nasional.

Artinya, 13 partai lainnya diperkirakan hanya akan berebut 50% suara sisa dari ketiga partai tersebut.

Menurutnya, jangankan partai baru, partai lama yang ada di DPR saja tengah terancam di bawah PT4% mengingat ketatnya persaiangan.

Menurutnya, selain tiga parpol itu, beberapa parpol lainnya yang diperkirakan bisa kembali hadir di Senayan adalah Partai Demokrat, PKB, PAN, dan PKS.

Tag : OTT KPK, Pilpres 2019
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top