Jurus Perang Tarif Trump Dorong Pertumbuhan Ekonomi AS

Ekonomi AS bertumbuh di jalur tercepatnya dalam empat tahun pada semester II/2018. Hal itu terkerek upaya konsumen yang mendorong anggaran belanjanya dan para petani yang berlomba mengirim kedelai ke China sebanyak dan secepat mungkin agar tidak terkena tarif balasan yang berlaku awal Juli lalu.
Mutiara Nabila | 27 Juli 2018 15:25 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonomi AS bertumbuh di jalur tercepatnya dalam empat tahun pada semester II/2018. Hal itu terkerek upaya konsumen yang mendorong anggaran belanjanya dan para petani yang berlomba mengirim kedelai ke China sebanyak dan secepat mungkin agar tidak terkena tarif balasan yang berlaku awal Juli lalu.

Tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan AS diperkirakan naik 4,1% karena sejumlah pebisnis memilih untuk menimbun pasokan komoditas sebelum tarif impor mulai berlaku. Kinerja tersebut merupakan yang terkuat sejak kuartal III/2014 dan membuat ekonomi AS pada jalurnya untuk melampaui target pertumbuhan tahunan sebesar 3%.

Sebelum perilisan data ekonomi pada akhir Jumat (27/7/2018) waktu setempat, Presiden AS Donald Trump dan anggota tim perekonomianya telah menyatakan gagasan bahwa pertumbuhan pada kuartal II/2018 akan menguat.

Pada awal pekan ini, Trump berkicau lewat aku twitternya dan menyatakan bahwa data ekonomi AS menjadi yang terbaik di seluruh dunia tahun ini.

Bersama dengan selentingan kabar pertumbuhan PDB AS kuartal II/2018, laporan data tersebut juga akan memunculkan revisi data kuartal pertama dengan estimasi kenaikan.

"Ironisnya, ancaman perang dagang justru malah memberi dukungan pada aktivitas perekonomian AS pada kuartal II/2018," ungkap Michelle Girard, Kepala Ekonom NatWest Market, dilansir Reuters, Jumat (27/7/2018).

AS menjatuhkan tarif sebesar 25% pada barang konsumsi China senilai US$34 miliar yang mulai berlaku pada 6 Juli lalu. Gerakan tersebut memicu respons balasan dari Beijing, yang menargetkan tarif serupa pada komoditas kedelai dan sejumlah produk pertanian lainnya, serta produk kendaraan pabrikan AS.

Trump kemudian menjatuhkan tarif pada impor aluminium, yang memicu balasan tarif dari rekanan dagangnya termasuk Kanada, Uni Eropa, Meksiko, dan China. Selain itu, sejumlah barang lainnya juga dikenakan tarif tambahan pada kuartal II/2018.

Dengan isu perdagangan yang belum mereda pada semester II tahun ini, sejumlah ekonom khawatir akan mengganggu pertumbuhan ekonomi global periode April hingga Juni tahun ini. Selain itu, sejumlah analis juga mengatakan bahwa dengan adanya perang tarif diperkirakan akan membuat pertumbuhan ekonomi global berada di posisi 2,5%.

"Masalah yang sebenarnya adalah apa kekuatan yang mendasari pertumbuhan itu dan hal pemicu apa yang sifatnya sementara. Ke depannya mungkin kami melihat pertumbuhan ekonomi global akan melambat karena adanya perang tarif," kata Sung Won Sohn, Kepala Ekonom SS Economics di Los Angeles.

Perekonomian AS tahun ini juga akan terdorong oleh paket kebijakan pemangkasan pajak senilai US$1,5 trilun dan kenaikan anggaran negara pada akhir tahun. Namun, stimulus tersebut diperkirakan akan berangsur melemah pada tahun depan.

Pajak impor dinilai sangat menghambat pertumbuhan ekonomi, karena membuat harga-harga barang menjadi mahal dan menurunkan anggaran konsumen dan rencana investasi bisnis.

Untuk saat ini, kekuatan pertumbuhan ekonomi AS di kuartal kedua 2018 membuat Federal Reserve AS bersikukuh melanjutkan kenaikan suku bunganya hingga dua kali lagi. Bank sentral AS itu juga akan meningkatkan biaya pinjaman pada Juni untuk kedua kalinya tahun ini dan diperkirakan akan menaikkan suku bunga dua kali lagi hingga akhir 2018.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top