Penanganan Kebakaran Hutan Lebih Tertata

Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan menyatakan manajemen penanggulangan kebakaran hutan sudah lebih tertata dari tahun lalu.
David Eka Issetiabudi | 25 Juli 2018 20:13 WIB
Pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Siak, Riau - Antara/Rony Muharrman

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan menyatakan manajemen penanggulangan kebakaran hutan sudah lebih tertata dari tahun lalu.

Dalam rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan di Kantor Staf Kepresidenan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan kementeriannya melakukan monitoring langsung di wilayah-wilayah yang kerap dilanda kebakaran hutan dan lahan. Sebut saja seperti, Kalimantan Tengah, Jambi, Sumsel, Kalimantan Barat, dan Riau.

“Dari pengalaman selama ini, manajemen penanggulangan kebakaran hutan dan lahan sudah lebih tertata, “ tuturnya dalam keterangan tertulis, Rabu (25/7/2018).

Dalam rapat yang ini bertujuan untuk memperkuat sinergi dan perbaikan proses kerja masing-masing kementerian dan lembaga ini, juga melibatkan BMKG, Badan Restorasi Gambut, pemerintah daerah dan lainnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi prediksi puncak kemarau tahun ini akan terjadi pada Juli – September. Untuk periode mingguan, BMKG mengeluarkan prediksi harian yang berlaku hingga seminggu ke depan.

“Di situ akan terlihat tingkat curah hujan, kelembaban udara, dan kecepatan angin, yang bisa dipakai untuk melihat sampai sejauh mana tingkat hot spot di lapangan. “Jika sudah sebesar 50 persen, maka dalam kategori membahayakan dan mudah terbakar,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Untuk mencegah agar titik api tersebut tidak meluas, maka salah satu cara yang diusulkan adalah dengan meningkatkan kelembaban lahan gambut. Dwikorita mengusulkan adanya hujan buatan yang efektif dilakukan di minggu ini dan minggu depan, karena ada kiriman awan dari Filipina.

Usulan BMKG dilatarbelakangi dari pengamatan Badan Restorasi Gambut (BRG) pada pertengahan Juli selama dua pekan juga memperlihatkan adanya variasi permukaan air pada gambut dari kurang dari 0,5 m sampai kurang dari 1,5 m.

Sementara itu, kondisi yang masih bisa diterima adalah tinggi permukaan air  kurang dari 0,5 m. Dengan kondisi ini  kelembaban gambut masih terjaga. Jika permukaan  air lebih dari 0,5 hingga kurang dari 1,4 m di bawah gambut menandakan kelembaban yang mulai berkurang, bahkan tinggal 20 – 30%.

Menurut Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead  langkah yang wajib dilakukan adalah dengan mempersiapkan sekat-sekat air yang dikerjakan  oleh masyarakat.

Dia mengatakan kondisi terakhir dari tingkat kelembaban dan tingkat muka air gambut, kondisinya beragam. Dalam artian, ada juga yang posisi air berada di bawah 1 meter permukaan tanah.

“Tapi ada dua titik yang kita agak khawatir karena rendah sekali, tapi kita khawatir alatnya salah hitung jadi lagi ngirim orang ke lapangan,” katanya.

Dua titik yang dimaksud salah satunya Ogan Komerang Ilir. Menurutnya, untuk OKI yang menjadi permasalahan karena posisinya di selatan Palembang. Sementara itu, satu titik lainnya berada di daerah yang dekat dengan perbatasan Jambi.

“Di OKI masih lumayan baik ada yang masih tergenang, ada yang 20 cm di bawah permukaan, ada yang 60 cm di bawah permukaan. Untuk 60 cm di bawah permukaan, itu sudah harus was-was. yg 20 cm atau 0, misalnya banjir, ya bagus,” tambahnya.

Tag : Karhutla
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top