LIPI Ajukan 3 Cagar Biosfer ke UNESCO

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini tengah mengajukan tiga lokasi cagar biosfer kepada UNESCO agar mendapat pengakuan.
Juli Etha Ramaida Manalu | 24 Juli 2018 01:51 WIB
Gunung Rinjani - wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA— Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini tengah mengajukan tiga lokasi cagar biosfer kepada UNESCO agar mendapat pengakuan.

Ketiga cagar biosfer tersebut antara lain Berbak di Sembilang, Betung Kerihun di Danau Sentarum, dan Gunung Rinjani di Lombok.

“LIPI sebagai focal point program manusia dan biosfer UNESCO di Indonesia bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Serta pemerintah daerahakan terus mempromosikan cagar biosfer untuk mendorong pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan,” kata Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subiyanto seperti dikutip dari keterangan pers, Senin (23/7/2018).

Hal ini merupakan wujud kontribusi LIPI dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di dalam cagar biosfer. Cagar biosfer sendiri merupakan tempat untuk membentuk pengelolaan berkelanjutan melalui berbagai program seperti manajemen SDA dan ekosistem, pengembangan jasa lingkungan, serta penelitian dan pengembangan (litbang). Sejak 1977 hingga saat ini, Indonesia telah memiliki 11 cagar biosfer.

Di sisi lain, untuk membantu meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat, dia menmbau agar pihak swasta khususnya pelaku usaha baik di Indonesia dan negara lain bisa meningkatkan implementasi hasil penelitian dalam mendukung industrialisasi.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa untuk bisa mendorong pengelolaan SDA diperlukan keterlibatan pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat demi mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan sustainable development goals/SDGs) pada 2030.

Adapun Dirjen Konservasi SDA dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno menyatakan ada perubahan arah kebijakan dimana masyarakat sekarang dijadikan subyek dalam pegelolaan dan konservasi SDA.

Wiratno juga menekankan pentingnya modal sosial berupa jejaring dan kemitraan para pemangku kepentingan. Dukungan modal sosial, kata Wiratno, akan meningkatkan efektivitas pengelolaan SDA.

Sementara itu, Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK Agus Justianto menyatakan sumber daya hutan Indonesia memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Agus mengatakan untuk memastikan adanya pemanfaatan ekonomi sekaligus pada saat yang bersamaan mengkonservasi hutan, memang ada tantangan yang harus dihadapi. Disinilah peran penting litbang menentukan.

“Litbang bisa menyediakan pengetahuan dan teknologi yang memadai untuk memahami hubungan antara sumber daya alam dan sistem sosial yang bisa mendukung perencanaan kebijakan yang terintegrasi,” katanya.

Dia menekankan, sesuai dengan tujuan pembangunan Indonesia saat ini dan komitmen Indonesia di forum Internasional, litbang akan fokus pada upaya mendukung perlindungan konservasi keanekaragaman hayati, restorasi ekosistem hutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pada saat yang sama mendukung pertumbuhan ekonomi hijau.

Sementara itu Direktur Sustainability & Stakeholder Engagement APP-Sinar Mas Elim Sritaba sepakat bahwa perlindungan dan konservasi hutan bukan tanggung jawab satu pihak saja. “Kami telah membuat program & melakukan upaya perlindungan hutan yang ada di dalam konsesi kami. Tapi pada skala bentang alam, upaya itu membutuhkan pendekatan kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan,” katanya

Tag : lipi
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top