Telan Puluhan Korban, Pemerintah Jepang Tetapkan Gelombang Panas Sebagai Bencana Alam

Serangan gelombang panas menewaskan setidaknya 65 orang di Jepang selama dua pekan terakhir. Badan Meteorologi Jepang memperingatkan suhu bisa mencapai 35 derajat Celcius atau lebih tinggi lagi hingga awal Agustus 2018.
Annisa Margrit | 24 Juli 2018 14:53 WIB
Orang-orang beristirahat di depan pipa penyemprot air di sebuah taman di Tokyo, Jepang, Selasa (17/7). - Reuters/Kim Kyung Hoon

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah Jepang menjadikan serangan gelombang panas, yang sudah terjadi selama dua pekan terakhir, sebagai bencana alam. 

Serangan gelombang panas menewaskan setidaknya 65 orang di Jepang selama dua pekan terakhir. Badan Meteorologi Jepang memperingatkan suhu bisa mencapai 35 derajat Celcius atau lebih tinggi lagi hingga awal Agustus 2018.

Lebih dari 22.000 orang telah dilarikan ke rumah sakit karena gelombang panas, sebagian besar di antaranya lansia.

BBC melansir Selasa (24/7/2018), di pusat Tokyo suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celcius untuk pertama kalinya.

Pada Senin (23/7), Kota Kumagaya bahkan mencatatkan suhu 41,1 derajat Celcius atau yang rekor tertinggi di Jepang.

"Kami sedang memantau suhu di beberapa area," ujar Juru Bicara Badan Meteorologi Jepang Motoaki Takekawa.

Dia menambahkan gelombang panas ini menjadi ancaman bagi kehidupan dan Pemerintah Jepang memperlakukannya sebagai bencana alam.

Juru bicara pemerintah Yoshihide Suga menyampaikan libur musim panas bagi anak-anak sekolah bisa diperpanjang untuk melindungi siswa. Pasalnya, hanya kurang dari separuh sekolah di Negeri Sakura yang dilengkapi dengan pendingin ruangan.

"Seiring dengan berlanjutnya gelombang panas di seluruh negeri, langkah-langkah darurat diperlukan untuk melindungi para siswa," paparnya.

Warga diimbau untuk banyak minum air, menggunakan pendingin ruangan, dan sering beristirahat.

Gelombang panas ini terjadi setelah hujan deras melanda sebagian wilayah Jepang, yang menyebabkan banjir dan longsor di bagian barat negara itu. Ratusan orang tercatat menjadi korban, baik meninggal maupun luka-luka.

Sumber : BBC

Tag : jepang
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top