Pertemuan G20: Tensi Perdagangan Jadi Ancaman Pertumbuhan Global

Pertumbuhan ekonomi global menjadi kurang merata dan rentan terhadap berbagai macam ancaman, termasuk dari dampak kebijakan proteksionisme. Hal itu disebutkan di dalam komunike hasil pertemuan kelompok negara 20 (G20) di Buenos Aires, Argentina, 21-22 Juli 2018
Dwi Nicken Tari | 23 Juli 2018 19:04 WIB
Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara anggota G20 tengah berpose untuk membuat foto resmi Pertemuan Menteri Keuangan G20 di Buenos Aires Argentina, Sabtu (21/7/2018). - Reuters/Marcos Brindicci

Kabar24.com, JAKARTA—Pertumbuhan ekonomi global menjadi kurang merata dan rentan terhadap berbagai macam ancaman, termasuk dari dampak kebijakan proteksionisme. Hal itu disebutkan di dalam komunike hasil pertemuan kelompok negara 20 (G20) di Buenos Aires, Argentina, 21-22 Juli 2018.

“Risiko penurunan untuk jangka pendek dan menengah semakin tinggi,” tulis berkas tersebut, seperti dikutip Bloomberg, Senin (23/7/2018).

Adapun komunike itu mengingatkan, pertumbuhan ekonomi global pada kuartal II/2018 menjadi kurang seimbang dan sinyal-sinyal perlambatan mulai terlihat dari negara-negara maju.

Selain risiko perlambatan tersebut, beberapa risiko lain juga datang dari meningkatnya kerentanan finansial, tensi perdagangan dan politik.

Adapun sebelumnya di dalam hasil pertemuan G20 pada Maret, komunikenya tidak menyebutkan secara spesifik bahwa tensi perdagangan merupakan risiko untuk pertumbuhan ekonomi dunia.

Oleh karena itu, negara G20 kini tampaknya semakin serius menanggapi prospek dampak negatif yang dibawa tensi dagang. Sebelumnya, mereka hanya menyatakan, segala permasalahan harus diselesaikan dengan mengambil langkah yang diperlukan.

“Kami… menyadari pentingnya pengambilan langkah untuk mengurangi risiko,” tulis komunike tersebut.

Menteri Keuangan Australia Scott Morrison menilai, komunike terbaru dari pertemuan G20 itu merupakan pernyataan terkuat sejauh ini.

Dia mengungkapkan, para menteri telah menyampaikan kekhawatiran di dalam pertemuan dua hari itu bahwa aksi saling balas tarif antara AS dan mitra dagangnya dapat merusak perdagangan bebas.

“Pernyataan terbaru itu memperlihatkan betapa pentingnya untuk segera menyelesaikan isu-isu ini,” ujarnya.

Adapun pertemuan pada akhir pekan lalu tersebut bertepatan dengan meningkatnya tensi perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Kedua ekonomi terbesar di dunia itu telah melemparkan tarif sebesar 25% untuk produk impor masing-masing yang senilai US$34 miliar.

Pada Jumat (20/7/2018), Trump kembali menaikkan tensi dengan mengancam bakal mengenakan tarif impor untuk produk China senilai US$500 miliar jika China tidak setuju melakukan perubahan struktural besar-besaran di dalam kebijakan transfer teknologi, subsidi industri, dan joint-venture.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin juga menyampaikan di dalam konferensi pers setelah Pertemuan G20, dia tidak memiliki diskusi yang substantive dengan Menkeu China Liu Kun selama pertemuan tersebut.

“Kapan pun mereka mau duduk bersama dan berunding berarti perubahan, saya dan tim selalu bersedia,” ujar Mnuchin.

Adapun perwakilan China tidak berbicara kepada media selama pertemuan tersebut. 

Tag : g20, perang dagang AS vs China
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top