"Ampunilah Dosa Kami" Ternyata Ungkapan yang Salah Kaprah

Menggunakan bahasa sesuai dengan tata bahasa, tidak akan menjadikan komunikasi terasa kaku, melainkan akan akan menghindari kesalahpahaman.
Choirul Anam | 17 Juli 2018 20:11 WIB
Prof Rustono (kanan) dan Rektor UMM (tengah) dideretan pembica pada dialog pakar di UMM, Selasa (17/6/2018). - Bisnis/Istimewa

Bisnis.com, MALANG – Menggunakan bahasa sesuai dengan tata bahasa, tidak akan menjadikan komunikasi terasa kaku, melainkan akan akan menghindari kesalahpahaman.

Demikian salah satu poin yang disampaikan Prof Rustono, guru besar bidang sosiolingustik Fakultas Bahasa dan Seni Univeristas Negeri Semarang (Unnes) pada dialog pakar di UMM, Selasa (17/7/2018).

Di tengah maraknya pembuatan konten sebagai salah satu profesi di era modern ini, dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini menyebutkan bahwa siapa pun yang bekerja atau belajar dalam lingkup bahasa harus memahami secara cermat bahasa tersebut.

"Menjadi pelaku dalam disiplin bahasa tidak hanya melulu membutuhkan pemahaman dari sisi konteks, namun juga harus dipahami dalam kaidah tata bahasa," ujar mantan Ketua Program Studi Pendidikan dan Bahasa Pascasarjana (PPs) Unnes ini.

Rustono  yang juga Pembantu Rektor Bidang Akademik UNNES ini memberikan salah satu contoh kesalahan penggunaan istilah yang sering digunakan mulai dari acara tingkat nasional hingga masjid di desa-desa. Istilah tersebut ada pada teks doa yang berbunyi "Ampunilah dosa-dosa kami".

"Ada satu ungkapan yang kesalahannya mulai tingkat nasional hingga wilayah desa yakni pada ungkapan 'ampunilah dosa-dosa kami'," katanya.

Menurut dia, ungkapan tersebut berarti yang diampuni oleh Tuhan adalah kita sebagai individu atau manusia atas dosa-dosa yang telah diperbuat, bukan dosa-dosa kita sehingga ungkapan tersebut menjadi lebih tepat jika "ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah aku perbuat”.

"Jika kita telaah kembali, maka ungkapan yang benar adalah ‘ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah aku perbuat’," ucapnya.

Selain membahas beberapa istilah yang kurang tepat, penulis buku Pokok-pokok Pragmatik ini juga mengajak seluruh akademisi untuk benar-benar menyadari penggunaan bahasa yang benar.

Menurut dia, bahasa adalah ilmu yang sangat sulit dipelajari sehingga merupakan hal yang sangat luar biasa jika kita bisa menaklukkan bahasa itu sendiri.

Rektor UMM Fauzan berharap  para peserta yang hadir dapat mengambil banyak ilmu dari acara ini. "Anda semua yang hadir di sini sangat-sangat perlu bersyukur karena sangat jarang sekali pakar seperti Prof Rus ini hadir membagikan ilmunya," katanya.

Tag : Bahasa Indonesia
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top