Industri Keuangan Inggris Kecam Proposal Brexit May

Industri keuangan di Britania Raya mengecam proposal terbaru dari PM Inggris Theresa May untuk Brexit. Bahkan beberapa di antaranya menyebut proposal itu merupakan hasil yang terburuk.
Dwi Nicken Tari | 13 Juli 2018 14:35 WIB
Theresa May. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA – Industri keuangan di Britania Raya mengecam proposal terbaru dari PM Inggris Theresa May untuk Brexit. Bahkan beberapa di antaranya menyebut proposal itu merupakan hasil yang terburuk.

Beberapa eksekutif industri di Inggris menilai rencana May yang ingin menjaga hubungan dengan Uni Eropa (UE) untuk sektor layanan keuangan akan memakan banyak biaya dan merugikan perekonomian Inggris secara meluas.

Mereka juga menilai, proposal semacam itu akan membuat Inggris kehilangan akses mudahnya, sementara untuk pasar terbesar terus berada di bawah pengaruh aturan UE.

Adapun kini May lebih condong kepada keputusan ekuivalen (setara) untuk Inggris, yaitu menggunakan aturan Uni Eropa yang digunakan terhadap negara lain selain UE. Alhasil, perbankan Inggris nantinya bakal kehilangan akses tanpa batasnya untuk pasar UE.

“Kertas putih Brexit kali ini benar-benar mengguncang. Melonggarkan hubungan perdagangan dengan Eropa akan membuat sektor keuangan dan profesional lainnya kesulitan untuk membuka lapangan kerja, menghasilkan pajak, dan mendukung pertumbuhan,” kata Catherine McGuinness, Kepala Kebijakan di City of London Corporation, melalui pernyataan seperti dikutip Bloomberg, Jumat (13/7/2018).

McGuinness menilai ekuivalen tidak cukup baik dan perlu ditingkatkan lagi secara substansial. Adapun kunci utama untuk pengaturan ekuivalen saat ini merupakan skenario terburuk untuk Inggris.

Pasalnya, kemampuan UE yang secara sepihak dapat menarik diri dari kesepakatan dengan pemberitahuan singkat bakal merusak rencana jangka panjang para pebisnis.

Di sisi lain, Chancellor of the Exchequer Philip Hammond mendukung rencana May dan mengatakan proposal itu dapat memberikan kesepakatan yang baik bagi Inggris dan industri keuangannya.

Sejauh ini, dia memang menjadi pendukung setia di dalam Kabinet May untuk terus menjaga hubungan erat dengan UE. “Sektor jasa yang sukses di Inggris—dan khususnya layanan jasa keuangan—selalu menjadi pusat rencana kami. Saya tegaskan bahwa kita harus mendapatkan kesepakatan yang dapat memungkinakan sektor ini terus berkembang,” ujarnya.

Adapun Inggris ingin mengembangkan jangkauan layanan perbankannya lewat aturan ekuivalen dan memiliki lebih banyak input dari bentuk regulasi UE di masa depan. Oleh karena itu, Hammond menuliskan, Inggris akan mendapatkan keuntungan dari negara-negara lainnya sementara membentuk kesepakatan baru dengan UE.

Sumber : Bloomberg

Tag : Brexit
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top