Data Pasar Pekerja AS Beri Sinyal Pengetatan

Jumlah pekerja di Amerika Serikat yang keluar dari pekerjaan mereka karena keinginan sendiri meningkat pada Mei.
Dwi Nicken Tari | 11 Juli 2018 13:08 WIB

Kabar24.com, JAKARTA – Jumlah pekerja di Amerika Serikat yang keluar dari pekerjaan mereka karena keinginan sendiri meningkat pada Mei. Hal itu memperlihatkan sinyal keyakinan bahwa pasar pekerja di Negeri Paman Sam akan mengetat dan dapat mendorong pertumbuhan upah.

Menurut data Job Openings and Labour Turnover Survey (JOLTS) bulanan yang dikeluarkan oleh Departemen Ketenagakerjaan AS, jumlah pekerja yang meninggalkan pekerjaan mereka naik menjadi 3,3 juta dari 212.000 di bulan sebelumnya.

Adapun kenaikan itu juga menaikkan rasio berhenti bekerja (quits rate) sebesar 0,1% menjadi 2,4%, atau terbesar sejak April 2001.

Meningkatnya quits rate, yang dipandang pembuat kebijakan dan ekonom sebagai pengukuran keyakinan pasar pekerja, mendukung perkiraan bahwa kenaikan upah akan melaju pada tahun ini di AS.

“Para pekerja dapat berharap untuk mendapatkan kenaikan upah ketika mereka berpindah kerja,” kata Sophia Koropeckyj, Ekonom Senior di Moody’s Investor Analytics di West Chester, Pennsylvania, seperti dikutip Reuters, Rabu (11/7/2018).

Dia menjelaskan, pekerja yang bergerak mencari pekerjaan lain dan meninggalkan pekerjaan lamanya sama juga dengan membuka kesempatan kerja bagi orang lain untuk menempati pekerjaan lamanya tersebut.

Adapun inflasi upah bergerak moderat kendati terjadi pengetatan di dalam pasar pekerja. Pertumbuhan upah secara tahunan yang dihitung melalui pendapata rata-rata per jam sangat kesulitan untuk menembus level 3%, atau hanya naik menjadi 2,7% pada Juni.

Namun, kekuatan pasar pekerja dan kenaikan inflasi yang stabil tetap bakal mendukung Bank Sentral AS (Federal Reserve) untuk menaikkan suku bunga lagi pada Agustus 2018.

Tag : ekonomi as
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top