Perang Dagang dapat Memicu Proteksionisme Setiap Negara

Tembakan pertama perang dagang antara Amerika Serikat dan China berlalu tanpa reaksi berlebihan di tengah-tengah investor. Namun, ketenangan itu diperkirakan hanya untuk sementara.
Dwi Nicken Tari | 09 Juli 2018 16:00 WIB

Kabar24.com, JAKARTA – Tembakan pertama perang dagang antara Amerika Serikat dan China berlalu tanpa reaksi berlebihan di tengah-tengah investor. Namun, ketenangan itu diperkirakan hanya untuk sementara.

Selama berbulan-bulan, pasar modal telah menghadapi serangkaian ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump untuk China.

Oleh karena itu, mereka tidak terlalu terkejut ketika AS benar-benar mengimplementasikan tarif sebesar 25% atas produk impor China yang senilai US$34 miliar pada akhir pekan lalu. Untuk itu, China pun telah langsung memberikan tarif retaliasi.

Arsi Sheth, Direktur Pelaksana Moody’s Investor Service menyatakan saat ini sulit untuk mengukur dampak perang dagang yang dapat merusak ekonomi global.

“Kita belum pernah berada di dalam skala perang dagang seperti ini. 50 tahun terakhir lebih kepada integrasi. Jadi, kami tidak memiliki masa yang dapat dipelajarai dari masa lalu,” ujarnya, seperti dikutip Bloomberg, Senin (9/7/2018).

Adapun ekonom merasa mereka dapat menanggulangi dampak langsung dari tarif tersebut. Teorinya, tarif dapat menaikkan harga produk impor dan menggelembungkan biaya produksi. Kemudian, perusahaan dapat menerima kenaikan tarif tersebut, atau membebankannya ke beberapa atau semua pelanggannya.

Bloomberg Economics memperkirakan, jika AS berhenti pada pengenaan tarif terhadap produk impor yang jumlahnya mencapai US$50 dan China melakukan hal yang sama, maka pukulan bagi keduanya akan moderat.

Hal itu akan membuat kedua negara sadar dan pasar keuangan bisa sedikit tertekan tetapi tidak terlalu bergejolak.

Namun, tidak ada pihak yang mengetahui jalan pikiran dan rencana Trump ke depannya terkait pengenaan tarif.

Ekonom mengatakan mereka tidak dapat mengukur dampak tidak langsung dari eskalasi perang dagang saat ini. Namun, pelemahan pasar modal AS bisa menjadi salah satu elemen pengukurannya.

Berdasarkan Bloomberg Economics, faktor yang membuat harga saham tergerus dan kemungkinan dampaknya dapat memukul pertumbuhan ekonomi AS telah melebar menjadi 0,4%.

Adapun saham China dan mata uang yuan telah terkena dampak kekhawatiran perang dagang. Indeks Shanghai Komposit melanjutkan pelemahan terpanjangnya dalam 6 tahun dan yuan mencatatkan perolehan kuartalan terburuk sejak 1994 pada bulan lalu.

Para pembuat kebijakan di China pun telah mengupayakan untuk menenangkan sentimen pasar.

Adapun bisnis dan kepercayaan konsumen juga merupakan faktor yang berpengaruh. Berdasarkan risalah Pertemuan FOMC bulan lalu, bisnis di beberapa distrik yang diawasi oleh Federal Reserve mengindikasikan bahwa mereka tengah mengatur ulang atau menunda pengeluaran modalnya karena ketidakpastian perdagangan.

“Risikonya adalah ketika kita mulai melihat banyak bisnis yang bereaksi negatif dengan menahan investasi mereka,” kata Gregory Daco, Kepala Ekonom AS di Oxford Economics, seperti dikutip Bloomberg, Senin (9/7/2018).

Adapun di dalam skenario terburuk, penurunan investasi bisnis dan pengeluaran konsumen bakal mengurangi permintaan barang. Hal itu akan memicu negara-negara lain membuat hambatan dagang, sehingga memperlambat pertumbuhan. (Bloomberg/Dwi Nicken Tari)

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top