Posisi Jokowi Menguat, Namun Daya Tawar Partai Menengah bisa Naik Usai Pilkada

Meski posisi Jokowi sebagai capres disebut menguat setelah Pilkada 2018, namun masih banyaknya suara liar dan kebuntuan negosiasi parpol besar dalam pencapresan menaikkan daya tawar parpol kelas menengah.
John Andhi Oktaveri | 01 Juli 2018 21:19 WIB
Contoh surat suara untuk Pilkada 2018 saat ditinjau oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Tegal di percetakan PT Aksara Grafika Pratama (AGP) di Jakarta, Senin (30/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Meski posisi Jokowi sebagai capres disebut menguat setelah Pilkada 2018, namun masih banyaknya suara liar dan kebuntuan negosiasi parpol besar dalam pencapresan menaikkan daya tawar parpol kelas menengah.

Demikian dikemukakan pengamat pengamat politik dari Exposit Strategic Arif Susanto saat memaparkan konsekuensi hasil Pilkada 2018 terhadap persaingan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Salah satu konsekuensi adalah naiknya nilai tawar partai-partai menengah ke bawah.

"Konsekuensi hasil Pilkada ini berdampak pada naiknya posisi tawar partai-partai menengah ke bawah. (Ini) dapat membuat negosiasi politik menjadi alot," kata Arif, Minggu (1/7/2018). Sejumlah partai menengah adalah seperti PKS, PAN dan PKB.

Partai menengah ke bawah, ujarnya, merupakan partai yang jumlah kursinya di DPR tak begitu signifikan. Akan tetapi ketika partai-partai menengah ke bawah tersebut naik nilai tawarnya bukan tidak mungkin poros ketiga akan terbentuk pada Pilpres 2019.

"Manakala kebuntuan politik terjadi, peluang bagi poros ketiga menjadi kembali terbuka," ujarnya.

Lebih lanjut, Arif juga menambahkan, pulau Jawa merupakan salah satu jumlah pemilih terbesar. Namun arah politiknya terlihat masih liar dan tidak begitu terarah akan kemana berlabuhnya.

"Dengan jumlah penduduk besar, Jawa masih merupakan kunci. Tetapi persaingan diantara Jokowi dan Prabowo di enam daerah berpeluang mengalami pergeseran, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Barat," ujarnya.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio menilai momen Pilkada Serentak 2018 membuat Presiden Joko Widodo berada di atas angin karena dukungan sejumlah paslon terpilih usai penghitungan cepat dilakukan. 

Mereka yang langsung memberikan dukungan kepada Jokowi usai quick count dilakukan di antaranya adalah Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum. Keduanya diusung Nasdem, PPP, Hanura dan PKB . Selain itu, dukungan kepada Jokowi juga diberikan oleh paslon terpilih Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak. 

Di sisi lain, posisi Jokowi yang kini di atas angin dinilai akan membuat sejumlah tokoh ingin menjadi calon wakil presiden untuknya. Kpndisi itu berbeda dengan Prabowo yang terlihat belum memantapkan siapa calon wapres yang akan mendamingunya.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon sebelumnya mengatakan partainya akan membahas calon wakil presiden (cawapres) pendamping Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto pekan depan.

Fadli mengatakan fokus Gerindra, PKS dan PAN untuk Pilkada Serentak 2018 sudah usai. Sekarang saat yang tepat untuk mempersiapkan Pilpres 2019.

Maskapai yang berbasis di Jakarta dan Surabaya ini, telah melayani lebih dari 278 frekuensi penerbangan harian dengan 71 rute ke 34 kota.

 

Tag : Pilkada Serentak
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top