Lembaga Think-Tank China: Para Pembuat Kebijakan Harus Siap Hadapi Ancaman Ekonomi

Wadah pemikir (think-tank) yang didukung oleh Pemerintahan China memperingatkan potensi terjadinya panik finansial (financial panic) di negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Hal itu memperlihatkan bahwa beberapa anggota pejabat elit Negeri Panda khawatir terhadap turbulensi pasar dan tensi perdagangan yang semakin meningkat.
Dwi Nicken Tari | 28 Juni 2018 13:15 WIB
Ekonomi China. - .Reuters

Kabar24.com, JAKARTA –Wadah pemikir (think-tank) yang didukung oleh Pemerintahan China memperingatkan potensi terjadinya panik finansial (financial panic) di negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Hal itu memperlihatkan bahwa beberapa anggota pejabat elit Negeri Panda khawatir terhadap turbulensi pasar dan tensi perdagangan yang semakin meningkat.  

Bocoran riset yang dilakukan National Institution for Finance & Development (NIFD) China menunjukkan bahwa default obligasi, pemangkasan likuiditas, dan gejolak pasar baru-baru ini membawa  ancaman khusus. Pasalnya, hal itu terjadi bersamaan dengan pengetatan suku bunga AS dan perselisihan dagang dengan Washington.

Lembaga think-tank China itu memperingatkan, pembelian saham leverage dapat mencapai level yang sebelumnya terjadi pada 2015, ketika pasar terbentur dan kehilangan nilai sebesar US$5 triliun.

“Menurut kami, China saat ini akan melihat financial panic,” tulis NIFD di dalam bocoran riset yang telah dikonfirmasi, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (28/6/2018).

Oleh karena itu, NIFD menyarankan, pencegahan terjadinya dan menyebarnya financial panic harus menjadi prioritas utama bagi pelaku keuangan China dan regulator makroekonomi dalam beberapa tahun ke depan.

Riset tersebut juga menyediakan indikator lain bahwa  China semakin khawatir tentang efek domino dari tensi dagang dengan AS. Dalam beberapa minggu terakhir, akademisi terkemuka juga mulai mempertanyakan perlambatan ekonomi Negeri Panda.

Pasalnya, perekonomian yang bergantung dengan perdagangan dapat menerima guncangan berkelanjutan, yang bahkan kini mulai terbebani dari sisi harga saham dan nilai mata uang yuan.

NIFD mengimbau agar China siap untuk meracik campuran perhitungan fiskal dan sektor keuangan di dalam even krisis sistemik.

“Otoritas juga harus bersedia untuk memberikan dukungan keuangan penuh jika default besar menggunjang pasar, alih-alih hanya mengambil langkah kecil,” imbuh NIFD.

Adapun saham China bergerak memasuki pasar bearish pada pekan ini, dengan benchmark Indeks Shanghai Komposit anjlok lebih dari 20% sejak level tertingginya pada Januari.

Sementara itu, yuan juga merosot lebih dari 3% pada dua pekan terakhir. Mata uang China tersebut telah jatuh ke level terdalamnya sejak Desember 2018, pada Rabu (27/6/2018).

NFID mengungkapkan bahwa China telah gagal menghadapi isu pembelian saham leverage, penyebab tumbangnya pasar keuangan China pada tiga tahun lalu. Adapu pembeliannya kini telah mencapai sekitar 5 tiriliun yuan (US$760 miliar), hampir sama dengan yang terjadi pada 2015.

“Kami gagal menangani masalah dana leverage setelah jatuhnya pasar pada 2015; kini mereka kembali dengan jelmaan baru,” tulis NFID.

Lembaga itu pun menyatakan bahwa Dewan Negara China harus siap untuk mengimplementasikan perhitungan dukungan untuk pasar dengan koordinasi bersama bank sentral dan regulator lainnya, menteri pemerintahan, dan kepolisian.

Bocornya data riset NIFD di internet pada Senin (25/6/2018) dan kini telah dihapus itu dikonfimasi oleh NIFD yang menyatakan bahwa laporan tersebut tengah digunakan untuk diskusi internal.

Adapun NIFD didirikan pada 2005 dan merupakan think-tank di tingkat nasional China yang didukung oleh Chinese Academy of Social Sciences. 

Tag : ekonomi china
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top