Warga Jatim Tolak Fatwa "Fardhu Ain" Untuk Coblos Calon Tertentu

Hasil lembaga survei dari Pusat Studi Media Baru dan Perubahan Sosial Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mencatat bahwa mayoritas warga menolak munculnya fatwa "fardhu ain" mencoblos calon tertentu di Pilkada Jatim 2018.
Newswire | 27 Juni 2018 01:55 WIB
Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut dua Saifullah Yusuf (kedua kanan) didampingi calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno (kanan) menjawab pertanyaan disaksikan Calon Gubernur nomor urut satu Khofifah Indar Parawansa (kiri) dan Calon Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak (kedua kiri) saat Debat Publik Ketiga Pilgub Jawa Timur di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (23 - 6).

Bisnis.com, SURABAYA  - Hasil lembaga survei dari Pusat Studi Media Baru dan Perubahan Sosial Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mencatat bahwa mayoritas warga menolak munculnya fatwa "fardhu ain" mencoblos calon tertentu di Pilkada Jatim 2018.

"Sebanyak 70,1%  masyarakat Jatim menolak fatwa wajib itu," ujar Koordinator Penelitian Pusat Studi Media Baru dan Perubahan Sosial Unesa, Ardhie Raditya, kepada wartawan di Surabaya, Selasa (25/6/2018).

Dia merinci, penolakan terhadap fatwa tersebut sebanyak 70,1%, 19,3% tidak menolak dan 10,6% lainnya menjawab tidak tahu.

Survei sendiri mengambil responden 1.200 orang di 38 kabupaten/kota pada 8-22 Juni 2018, dengan tingkat kesalahan atau "margin of error" 2,85%  pada tingkat kepercayaan 95%.

"Hasil tersebut bahwa fatwa mendapat resistensi dari warga Jatim. Dari sini bisa dilihat bahwa warga Jatim menolak pemilihan pemimpin politik berdasarkan paksaan dan fatwa-fatwa semacam itu," ucapnya.

Menurut dia, fakta itu menyentak kesadaran publik Jatim, terlebih fatwa tersebut kemudian diberitakan secara luas dan menjadi perbincangan di media sosial, termasuk dilaporkan ke Polda Jatim serta Bawaslu Jatim.

Sementara itu, salah satu pihak yang melaporkannya adalah sejumlah kiai karena menilai fatwa tersebut sangat meresahkan masyarakat, bahkan disebutnya sesat dan menyesatkan.

Koordinator Forum Koordinasi Kiai Kampung Jawa Timur (FK3JT) KH Fahrurrozie mengatakan fatwa yang disisipi hadist tersebut sangat berpotensi menimbulkan konflik karena menyebut bahwa jika orang mukmin tidak memilih Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak dalam Pilkada Jatim 2018 maka sama dengan berkhianat pada Allah, Rasulullah dan orang mukmin.

Pilkada Jatim digelar 27 Juni 2018 untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2019-2024 diikuti dua pasangan calon, yakni Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak dengan nomor urut 1, dan Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno nomor urut 2.

Pasangan nomor 1 merupakan calon dari koalisi Partai Demokrat, Golkar, PAN, PPP, Hanura dan NasDem, sedangkan pasangan nomor 2 adalah calon dari gabungan PKB, PDI Perjuangan, PKS serta Gerindra.

Sumber : ANTARA

Tag : pilkada jatim
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top