ECB: Tekanan Inflasi Akibat Penguatan Euro Bisa Ditekan

Menguatnya euro mungkin tetap dapat membebani inflasi untuk beberapa kuartal ke depan. Namun, Bank Sentral Eropa (ECB) lewat artikel risetnya menyampaikan, dampak tersebut dapat ditutupi oleh peningkatan harga produk dari perusahaan.
Dwi Nicken Tari | 27 Juni 2018 19:42 WIB
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski

Kabar24.com, JAKARTA – Menguatnya euro mungkin tetap dapat membebani inflasi untuk beberapa kuartal ke depan. Namun, Bank Sentral Eropa (ECB) lewat artikel risetnya menyampaikan, dampak tersebut dapat ditutupi oleh peningkatan harga produk dari perusahaan.

Adapun ECB telah berupaya memberikan stimulus ke dalam perekonomian selama bertahun-tahun untuk mengerek inflasi. Namun, melonjaknya euro beberapa tahun terakhir membuat usaha para pembuat kebijakan menjadi lebih rumit. Pasalnya, mereka menjadi kesulitan untuk mengetatkan kebijakan moneter yang harus dilakukan tanpa memperburuk pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

"Apresiasi nilai euro dari pertengahan 2017 mungkin masih berlanjut dalam beberapa kuartal ke depan. Penguatan nilai tukar terhadap inflasi (exchange rate pass-through) mungkin sulit dideteksi karena tertutupi beberapa faktor lain, termasuk meningkatnya harga barang produksi perusahaan," tulis ECB seperti dikutip Reuters, Selasa (27/6/2018).

Dalam perspektif konseptual, apresiasi mata uang secara signifikan berpengaruh pada inflasi. Logikanya, penguatan mata uang memengaruhi harga produk yang berasal dari luar negeri. Harga barang impor yang lebih murah berimbas pada penurunan harga jual produknya di dalam negeri sehingga menghambat inflasi.

Sejauh ini, euro telah menguat sebesar 4% terhadap dolar AS dibandingkan setahun yang lalu, namun melemah mendekati 7% sejak puncaknya pada kuartal I/2018.

Di sisi lain, harga untuk produk industri non-energi merupakan yang paling sensitif terhadap pergerakan nilai tukar. Pasalnya, harga impor komponennya menjadi lebih tinggi dan hanya margin distribusi dan ritel yang memisahkan antara harga produk dan harga konsumen.

Namun, produsen di kawasan Benua Biru diperkirakan masih tahan terhadap tekanan menguatnya nilai tukar euro. Pasalnya, harga produk sebagian besar bergantung pada biaya pekerja dan non-pekerja domestik.

ECB menambahkan, hal ini berpotensi dapat menutupi dorongan ke bawah dari tingkat nilai tukar karena biaya pekerja di Zona Euro tengah meningkat. Selain itu, peningkatan pemanfaatan kapasitas juga memberikan perusahaan kenaikan leverage di dalam harga produk.

"Bersama-sama, faktor-faktor tersebut dapat menutupi tekanan dari nilai tukar," imbuh ECB. 

Tag : ecb
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top