China Beige Book: Ekonomi China Kuartal II/2018 Tak Selemah yang Diperkirakan

Gambaran perekonomian China yang melambat pada kuartal II/2018 bertentangan dengan laporan China Beige Book (CBB), yang menunjukkan data penjualan ritel dan investasi di Negeri Panda justru menguat dibandingkan data resmi yang dikeluarkan pemerintah.
Dwi Nicken Tari | 27 Juni 2018 18:20 WIB
Ekonomi China. - .Reuters

Kabar24.com, JAKARTA -- Gambaran perekonomian China yang melambat pada kuartal II/2018 bertentangan dengan laporan China Beige Book (CBB), yang menunjukkan data penjualan ritel dan investasi di Negeri Panda justru menguat dibandingkan data resmi yang dikeluarkan pemerintah.

“Sektor ritel mungkin terlihat lebih tinggi, dengan membaiknya laba dan pertumbuhan investasi,” tulis CBB di dalam laporannya, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (27/6/2018).

CBB menambahkan, perlambatan yang terlihat di dalam data resmi pada bulan lalu bukan mencerminkan kondisi sekarang ini. Namun, pelemahan itu lebih kepada kondisi yang tampak pada pada awal tahun ini dan akhir tahun lalu.

Menurut survei yang dilakukan CBB International, yang mengumpulkan data seperti Beige Book milik Federal Reserve, data resmi yang dikeluarkan pemerintah juga memperlihatkan kekurangan pada bagian investasi. Pasalnya, perhitungan statistik pemerintah tidak terlalu memperhitungkan pengeluaran ritel.

Oleh karena itu, CBB melanjutkan, pengeluaran modal yang memasukkan pengeluaran ritel menunjukkan pengeluaran modal yang masih sangat sehat di sebagian besar sektor.

"[Informasi investasi fixed-asset pemerintah] hanya memperlihatkan sebagian dari keseluruhan, jika dilihat lebih luas maka akan terlihat capex yang lebih kuat dalam berbagai sektor," tulis CBB.

Adapun gambaran perlambatan ekonomi China seiring dengan memanasnya perang dagang dengan AS telah memicu kekhawatiran yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Hal itu terlihat dari kondisi jatuhnya saham-saham Negeri Panda dan langkah yang diambil bank sentral pekan ini.

Bank Sentral China (PBOC) telah meningkatkan kredit untuk perusahaan kecil dan membantu perusahaan di dalam menangani utangnya.

Analis memperkirakan bank sentral akan terus melonggarkan kebijakan untuk menghadapi perlambatan ekonomi dan menghindari dampak dari praktik perbankan bayangan (shadow banking).

Kendati demikian, sementara institusi bayangan non-perbankan ditekan untuk memperoleh uang, Beige Book melaporkan bahwa perusahaan masih bisa meminjam dalam jumlah banyak, yang suku bunganya kini telah diturunkan sehingga menurunkan beban pembayaran utang.

Berdasarkan laporan CBB, pinjaman perusahaan pada kuartal II/2018 menjadi lebih tinggi dibandingkan pada kuartal I/2018 dan kuartal I/2017.

"[Sementara], suku bunga kini telah diturunkan secara nasional ke level yang lebih rendah dibandingkan setahun lalu untuk semua sub-sektor besar,” sambung laporan tersebut.

Adapun satu area yang dikhawatirkan rentan adalah sektor manufakur. Laporan CBB menegaskan, konflik perdagangan dengan AS dapat memukul inti perekonomian China.

"Masalah langsung adalah manufaktur dan permintaan ekspor komoditas dalam kuartal II/2018 memperlihatkan pelemahan yang cukup besar, dan outlook-nya memburuk," tulis CBB.

Untuk lebih spesifik, situasi yang memburuk terlihat dari komoditas baja memburuk. Saham perusahaan baja yang melaporkan kondisi membaik telah terperosok untuk setiap kategori besarnya, mulai dari revenue dan laba pertumbuhan hingga output perusahaan, investasi, dan rekrutmen,” kata CBB.

CBB melanjutkan, setelah 9 kuartal berupa mencapai rekor laba dan ekspasi produksi, baja kini lebih dekat dengan pembalikan tren.

Adapun CBB merupakan data independen berskala besar dunia untuk perekonomian China.

Tag : ekonomi china
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top