QUICK QOUNT PILGUB SUMUT 2018: Lakukan Kajian, PDIP Terkejut Djarot Kalah di Sumut

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengakui bahwa hasil pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2018 yang dimenangkan Edy Rahmayadi melawan kader partainya, Djarot Saiful Hidayat, berdasarkan hasil hitung cepat, sangat mengejutkan sehingga perlu dilakukan kajian.
John Andhi Oktaveri | 27 Juni 2018 20:32 WIB
Pasangan cagub-wagub Sumut nomor urut dua Djarot Saiful Hidayat (kiri)-Sihar Sitorus (kanan) menyampaikan program pada Debat Publik Ketiga Pilgub Sumut, di Medan, Sumatra Utara, Selasa (19/6). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA-- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengakui bahwa hasil pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2018 yang dimenangkan Edy Rahmayadi melawan kader partainya, Djarot Saiful Hidayat, berdasarkan hasil hitung cepat, sangat mengejutkan sehingga perlu dilakukan kajian.

Dia menyatakan pertarungan Pilgub Sumut memang menjadi perhatian partainya. Sebab, Djarot yang merupakan mantan wakil gubernur DKI Jakarta itu memang bukan asli putra daerah Sumut.

Hasil hitung cepat atau quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dan lembaga sigi lainnya menunjukkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 2, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus kalah dari pasangan nomorurut satu Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah di Pilgub Sumatera Utara 2018.

Berdasarkan persentase data sementara yang masuk pada, Rabu (27/6/2018) hingga sore, Djarot-Sihar mengantongi 42,93% suara tertinggal oleh lawannya Edy-Ijeck yang memperoleh 57,07% suara.

Dengan hasil perolehan tersebut, Hasto mengatakan partainya akan melakukan kajian terkait calon pemimpin daerah yang didelegasikan ke daerah yang bukan domisilinya. Alasannya, meski kalah, capaian suara Djarot melebihi 40%.

"Apakah ini benar sebagai sebuah proses politik dimana pergeseran dari aspek suku, kemudian etnisitas, kemudian daerah asal itu pengaruh atau tidak, kami masih melakukan kajian," ujar Hasto, Rabu (27/6).

Menurutnya, hal terpenting bagi PDIP, adalah bahwa mencalonkan Djarot adalah soal berbicara tentang Indonesia Raya.

"Indonesia yang dibangun untuk semua, Indonesia dibangun tanpa membeda-bedakan dari aspek suku etnis dan golongan. Itu yang menjadi keyakinan dari PDIP," ujarnya.

Hasto menyadari, dalam gelaran pemilu hari ini memang ada indikasi menang dan kalah dari hasil quick count. Tetapi menurut dia, yang menentukan ke depan adalah bagaimana kebijakan-kebijakan pemimpin selanjutnya.

"Karena bagi PDIP menang kalah itu hanya lima tahun, kalau kalah kami bisa melakukan perbaikan. Kalau menang bagaimana menjaga kemenangan untuk rakyat agar tidak ada korupsi dari kemenangan itu. Itu yang kami jaga," ujarnya.

Tag : Pilkada Serentak
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top