LAPORAN KHUSUS: Karena Celaka Setitik, Rusak Wisata Se-Danau Toba

Jangan sampai musibah moda transportasi yang terus berulang di Danau Toba membuat iklim wisata di kawasan ini lantas rusak dan meredup.
Fitri Sartina Dewi/Thomas Mola | 26 Juni 2018 12:37 WIB
Personil Basarnas merapatkan kapal usai melakukan pencarian penumpang korban tenggelamnya Kapal KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba di Dermaga Tigaras, Simalungun, Sumatra Utara, Selasa (19/6/2018) dini hari. - ANTARA/Lazuardy Fahmi

Bisnis.com, JAKARTA – Kunjungan wisatawan ke Danau Toba terus digenjot setelah pemerintah mempromosikan Danau Toba sebagai salah satu dari 10 jajaran destinasi wisata utama yang disebut ‘Bali Baru’

Untuk menarik minat wisatawan, Danau Toba terus bersolek, misalnya memperbaiki prasarana yang dapat menunjang kegiatan wisata di kawasan tersebut. Danau Toba diharapkan bisa menjadi roda penggerak perekonomian bagi masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

Dalam upaya pengembangan dan pembangunan infrastruktur, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan pembangunan infrastruktur di kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN) akan dilakukan secara terpadu.

Itu dilakukan dari semua aspek seperti penataan kawasan, jalan, penyediaan air baku, air bersih, hingga pengelolaan sampah. “Tantangannya adalah akses jalan menuju lokasi wisata ,” ujar Basuki.

Menurutnya, saat ini waktu tempuh dari Medan ke Danau Toba sekitar 5 jam perjalanan untuk jarak 170 km. Guna memangkas waktu tempuh, ujarnya, telah dilakukan pembangunan jalan tol Medan—Kualanamu—Tebing Tinggi.

Selain ditempuh melalui jalur darat, akses ke Danau Toba juga bisa melalui Bandara Silangit yang telah diresmikan sebagai bandara bertaraf internasional dan digadang-gadang sebagai pintu gerbang utama menuju kawasan wisata tersebut.

Meskipun upaya untuk mempercantik kawasan wisata Danau Toba terus dilakukan, hal penting mengenai aspek keselamatan transportasi justru seakan terlupakan.

Insiden tenggelamnya KM Sinar Bangun yang terjadi pada Senin (18/6)—bertepatan dengan momen liburan Lebaran—menjadi tamparan keras bagi pemerintah bahwa aspek keamanan dan keselamatan transportasi tradisional di kawasan wisata tersebut masih jauh dari kata layak.

Belajar dari hal tersebut, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengimbau pemerintah agar jangan hanya fokus pada sisi transportasi darat, tetapi melalaikan sektor penyeberangan.

Karamnya KM Sinar Bangun, ucapnya, menjadi bukti nyata bahwa pemerintah, pusat dan daerah lalai terhadap keselamatan warganya. “Bagaimana mungkin kapal yang kapasitas muatnya hanya sekitar 40 orang, bisa diisi sampai sekitar 200 orang?” ujarnya.

Agar insiden serupa tidak terjadi, YLKI mendorong pemerintah mengevaluasi kinerja seluruh syahbandar atau kepala pelabuhan, dan menjalankan manifes penumpang sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Jangan sampai musibah moda transportasi yang terus berulang di Danau Toba membuat iklim wisata di kawasan ini lantas rusak dan meredup.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (26/6/2018)

Tag : danau toba
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top