Tarif Dagang Dinilai Dapat Lemahkan Ekonomi AS Hingga 0,4%

Eskalasi perselisihan dagang antara Amerika Serikat dan dunia dapat membawa risiko perlambatan terhadap perekonomian AS.
Dwi Nicken Tari | 25 Juni 2018 13:06 WIB

Kabar24.com, JAKARTA – Eskalasi perselisihan dagang antara Amerika Serikat dan dunia dapat membawa risiko perlambatan terhadap perekonomian AS.

Ekonom menilai, tarif-tarif yang siap diimplementasikan dapat melemahkan pertumbuhan ekonomi AS. Belum lagi perhitungan hambatan dagang lainnya juga dapat memangkas pencapaian produk domestik bruto (PDB) AS , dengan catatan jika benar-benar dilakukan.

“Hal ini [perang dagang] akan sangat menyakitkan,” ujar Peter Hooper, Kepala Ekonom di Deutsche Bank AG, New York, seperti dikutip Bloomberg, Senin (25/6/2018).

Adapun Hooper memperkirakan ekonomi Negeri Paman Sam dapat berekspansi hingga 3% pada tahun ini. Namun, dia mengingatkan, pertumbuhan PDB AS dapat turun sebesar 0,1% disebabkan oleh tarif yang telah dikenakan maupun tarif yang masih dipertimbangkan oleh Gedung Putih.

Hooper menjelaskan, ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump sebesar 10% untuk impor China senilai US$200 miliar dan sebesar 20% untuk impor mobil dari Uni Eropa dapat melemahkan pertumbuhan ekonomi AS sebesar 0,3%-0,4%.

Adapun, imbuh Hooper, penurunan itu dapat menjadi semakin dalam jika tensi perdagangan melebar hingga ke konsumen, pebisnis, dan keyakinan investor.

“[Perang dagang] benar-benar akan menghambat laju ekonomi kendati tidak merusaknya,” ungkap Mark Zandi, Kepala Ekonom di Moody’s Analytics Inc.

Senada dengan Hooper, dia memperkirakan dampak aksi perdagangan dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi AS sebesar 0,3%.

Pun Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) Jerome Powell sempat menyatakan kekhawatirannya pekan lalu di dalam Konferensi Bank Sentral Eropa (ECB) di Portugal. Dia mengungkapkan, para pejabat The Fed mulai mendengar ada perusahaan yang menunda investasi dan perekrutan karena ketidakpastian tentang masa depan.

“Perubahan kebijakan perdagangan menyebabkan kami untuk mempertanyakan kembali outlook ekonomi,” ujarnya.

Adapun meningkatnya tarif impor dapat menyebabkan masalah khusus bagi bank sentral. Pasalnya, hal itu dapat meningkatkan inflasi dan melemahkan pertumbuhan ekonomi. Ditambah lagi, memburuhkan friksi dagang justru datang ketika perekonomian AS, seperti disebut Powell, sedang berperforma sangat baik.

Di sisi lain, Pemerintahan Trump tidak terlalu memperdulikan dampak ekonomi dari perang dagang.

“Semua pihak yang mengira ekonomi terancam itu tidak mengerti apa yang mereka bicarakan,” tutur Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross.

Sementara itu, sejauh ini pasar keuangan masih tenang menghadapi drama perdagangan tersebut. Mereka menilai ancaman tarif Trump lebih kepada taktik negosiasinya alih-alih rencana konkrit.

Tag : ekonomi as
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top