Pemilu Turki: Tantangan Besar bagi Erdogan

Warga Turki memberikan hak suaranya untuk memilih presiden dan parlemen pada Minggu (24/6/2018). Pemilu kali ini akan menjadi tantangan besar bagi Petahana Presiden Tayyip Erdogan dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), sejak mereka berkuasa lebih dari satu setengah dekade silam.
Dwi Nicken Tari | 24 Juni 2018 18:20 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA – Warga Turki memberikan hak suaranya untuk memilih presiden dan parlemen pada Minggu (24/6/2018). Pemilu kali ini akan menjadi tantangan besar bagi Petahana Presiden Tayyip Erdogan dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), sejak mereka berkuasa lebih dari satu setengah dekade silam.

Pemungutan suara kali ini juga akan memberikan kekuasaan baru bagi presiden eksekutif yang telah lama diincar Erdogan. Dia pun telah mendapat dukungan dari mayoritas kecil warga Turki dalam referendum 2017 untuk terpilih kembali.

Kritik pun bermunculan, menyatakan bahwa hal itu akan mengikis demokrasi di dalam negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan kepemimpinan satu orang.

“Stabilitas seperti sekarang harus berlanjut dan hanya akan terjadi dengan Erdogan. Jadi saya memilih dia. Selain itu, dengan Erdogan, kami berdiri lebih kuat di depan barat,” kata Mehmet Yildirim, seorang warga di Istanbul, seperti dikutip Reuters, Minggu (24/6/2018).

Dilaporkan lebih dari 56 juta jiwa yang telah terdaftar untuk memberikan suara di 180.000 kotak suara di seluruh penjuru Turki. Pemungutan suara akan dimulai pukul o8.00 hingga 17.00 waktu setempat.

Adapun Presiden Erdogan, yang paling popular namun juga pemimpin yang memecah-belah di dalam sejarah modern Turki, memindahkan pemilu menjadi lebih cepat dari mulanya November 2019.

Dia menyatakan, kekuatan baru dapat meleluasakannya untuk menghadapi permasalahan ekonomi dan sosial Turki yang menggunung.

 Sebelumnya, lira telah tumbang hingga 20% terhadap dolar AS tahun ini. Selain itu, Turki juga tengah mengupayakan kesepakatan dengan pemberontah Kurdish di tenggara Turki dan dengan negara tetangganya, Irak dan Syria.

Namun, calon presiden dari partai sekuler, Partai Rakyat Republik, Muharrem Ince tampil sebagai saingan Erdogan di dalam pemilu tahun ini.

Lewat kampanyenya di Istanbul, Sabtu (23/6/2018), yang dihadiri oleh ratusan ribu masyarakat Turki, Ince berjanji untuk mengembalikan apa yang dilihatnya sebagai perubahan aturan otoriter di bawah kepemimpinan Erdogan.

“Jika Erdogan menang, ponselmu akan terus disadap.. Ketakutan akan terus berkuasa.. Jika Ince menang, pengadilan akan independen,” ujar Ince, menambahkan bahwa dia akan mencabut status darurat Turki dalam 48 jam setelah terpilih.  

Tag : turki
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top