Lepas Ramadan, Saatnya Mulai Berbagi Kepada Siapa Saja

Lepas Ramadan, inilah saatnya memasuki babak pertandingan sesungguhnya setelah melewati masa latihan. Pertandingan apakah kita akan menjadi insan yang lebih baik tidak.
M. Syahran W. Lubis | 20 Juni 2018 16:20 WIB
Tadarus Alquran - Antara/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA – Imagine Dragons adalah sekumpulan anak muda dari Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Mereka bermusik dengan gegap gempita, berteriak keras dengan kebisingan yang mungkin kurang disukai orang-orang yang usianya melewati 50 tahun.

Namun, dari gegap gempita itu mereka membangkitkan semangat dengan isi lirik lagu-lagunya. Lebih dari itu ternyata mereka mengontribusi penghasilan dari bermusik untuk Tyler Robinson Foundation yang bermarkas di Salt Lake City, Utah, AS.

Dari lagu-lagu seperti It’s Time, Demons, I Bey My Life, On Top of the World, Radioaktive, Daniel Platzman, Daniel Reynolds, Benjamin McKee, dan Daniel Wayne Sermon menggelar konser dan menghasilkan uang untuk Tyler Robinson Foundation.

Tyler Robinson Foundation mengambil nama Tyler Robinson, penderita kanker yang meninggal dalam usia 17 tahun, namun hingga akhir hayat tetap punya semangat luar biasa dengan ikut bernyanyi di panggung konser Imagine Dragons.

Yayasan itu digulirkan keluarga Tyler sepeninggalnya untuk membantu penderita kanker untuk terus berjuang melawan penyakitnya dengan semangat dan perjuangan hingga detik terakhir.

Di Indonesia ada pula orang-orang yang berjuang membela kehidupan orang lain. Bahkan banyak organisasi seperti seperti itu. Di satu sudut Kelurahan Kemanggisan di Jakarta Barat, misalnya, terdapat dua yayasan yang pengelolanya rela menghabiskan waktu untuk mengurus orang lain.

Satu yayasan bergerak persis seperti yang dilakukan Tyler Robinson Foundation yakni membantu penderita kanker. Yayasan lainnya menghabiskan waktu dengan memberi bekal masa depan bagi anak-anak jalanan.

Tentu banyak organisasi begitu. Itulah yang menjadi perbincangan saya dengan sejumlah jamaah salat magrib di satu masjid di Tanah Abang, Jakarta Pusat, akhir pekan lalu sambil menanti masuknya waktu salat isya.

Sambil bersandar di sisi luar dinding masjid, seorang kawan berkata bahwa Ramadan yang baru berlalu merupakan saat terbaik untuk berbagi kepada yayasan-yayasan yang rela menghabiskan waktu mereka untuk orang lain seperti kisah di atas.

Namun, seorang lainnya menyatakan setelah Ramadan kisah berbagi itu seharusnya jauh lebih banyak lagi. Menurut dia, Ramadan bulan pendidikan atau tarbiyah yang jika melaksanakan kebaikan, Allah akan memberi ganjaran pahala dengan hitungan seperti matematika. Kalau berbuat satu kebaikan, yang biasanya hanya dibalas dengan 10 kebaikan, pada Ramadan dibalas berpuluh bahkan beratus kali lipat.

Sementara, setelah Ramadan adalah perjuangan sesungguhnya apakah kebaikan yang kita lakukan itu memang atas nama Allah atau hanya untuk mendapatkan balasan pahala.

Jika kita mampu berbuat baik hanya untuk mendapat rahmat dan rida Allah, maka itulah yang akan kita dapatkan, bukan sekadar yang berbatas bilangan.

“Kalau Allah sudah sayang dan rida sama kita, tak ada lagi jumlah bilangan yang membatasi apa yang Dia berikan kepada kita. Maka itu, berbagi mestinya justru makin banyak setelah Ramadan, bukan hanya saat bulan puasa,” katanya lagi.

Saya terdiam saja, tidak mengangguk atau menggeleng tanda menidakkan. Namun, saya sepertinya bisa menerima apa yang dikatakan kawan tadi.

Kalau begitu, Senin ini, 18 Juli, di tengah lalu lintas yang kembali sibuk setelah hingga akhir pekan lalu rada reda akibat sebagian karyawan agaknya masih mengambil cuti, di tengah kesibukan pekerjaan dunia yang kembali berintensitas tinggi, selayaknya kisah berbagi terus berlanjut.

Kisah berbagi yang sebenarnya ini, bukan dalam kerangka bertarbiyah bernama Ramadan, justru baru dimulai. Kita akan lihat hasilnya apakah pendidikan selama Ramadan memberi hasil positif atau sebaliknya balik ke level tabiat lama yang mungkin enggan berbagi.

Berbagi dari hasil kerja keras kita, entah ‘berteriak’ seperti Imagine Dragons atau hasil lainnya atau pula dalam bentuk apa pun yang kita bisa. Berbagi kepada siapa saja, tanpa memandang agama, status sosial, pendidikan, atau apa pun yang kerap kali digunakan untuk mengotak-ngotakkan manusia.

*) Telah dimuat di Bisnis Indonesia edisi 18 Juli 2016

Tag : Ramadan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top