Kemendagri Terus Upayakan Perekaman Data Penduduk

Upaya Kementerian Dalam Negeri bersama dengan jajaran Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) terus berupaya untuk memaksimalkan perekeman data untuk penerbitan KTP Elektronik (KTP-el) salah satunya dengan terus bekerja di libur lebaran Idulfitri 1439H.
Muhammad Ridwan | 20 Juni 2018 18:44 WIB
Warga mengikuti perekaman data untuk pembuatan e-KTP. - JIBI/Nicolous Irawan

Bisnis.com, JAKARTA - Upaya Kementerian Dalam Negeri bersama dengan jajaran Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) terus berupaya untuk memaksimalkan perekeman data untuk penerbitan KTP Elektronik (KTP-el) salah satunya dengan terus bekerja di libur lebaran Idulfitri 1439H.

Selama libur hari raya Idulfitri, sebanyak 244 dinas yang tersebar di 32 provinsi di seluruh Indonesia aktif melakukan perekaman KTP-el, hanya 2 provinsi Kalimantan Utara dan Papua Barat yang tidak ada lembur sama sekali.

“Ini menggembirakan karena menjadi satu-satunya dinas yang secara massif masih memberikan layanan di hari libur lebaran,” Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dalam keterangan yang didapat Rabu (20/6/2018).

Selama 5 bulan terakhir rata-rata Dinas Dukcapil merekam 34.074 per hari, tercatat pada Januari 2018, sebanyak 807.200 Ktp-el yang berhasil direkam, Februari sebanyak 408.331, Maret 1.198.924, April 1.112.759, Mei 732.087.

“Selama 5 bulan ini rata-rata per hari adalah 34.074 perekeman KTP –el,” ujar Mendagri Tjahjo.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, kapasitas maksimal perekeman seluruh Indonesia adalah 327.000 per hari. Sehingga, kapasitas yang tersedia belum digunakan secara menyeluruh.

“Andaikata jumlah penduduk yang merekam 100.000 saja (hanya memanfaatkan 30% dari kapasitas yang ada) maka perekaman akan selesai di Desember 2018,” tambah Tjahjo.

Sementara itu, jumlah penduduk yang belum merekam sekitar kurang lebih 10 juta, dengan 6,9 juta adalah pemilih pemula dan sisanya 3 juta adalah non pemilih pemula.

Untuk pemilih pemula, Kemendagri bersama dengan Dinas Dukcapil menggunakan strategi jemput bola ke SMA (Sekolah Menengah Atas) dan pondok pesantren. Hal ini dikira efektif, karena pemilih pemula terdata dengan baik dan sedang menempuh pendidikan di SMA, SMK atau pondok pesantren.

Menteri Tjahjo menambahkan, untuk 3 juta penduduk non pemilih pemula kita perlu strategi khusus. Strategi ini diperlukan karena penduduk ini tidak semua proaktif walaupun sudah dilakukan jemput bola, kuncinya adalah proaktif penduduk.

Tag : e-ktp
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top