Mesir Raup Pendapatan Tahunan $5.585 Miliar dari Terusan Suez

Pendapatan Mesir dari Terusan Suez untuk tahun keuangan 2017 - 2018 naik 11,5% atau merupakan rekor tertinggi, menjadi sebesar $5.585 miliar, otoritas kanal mengatakan dalam sebuah pernyataan di situsnya pada Minggu (17/6/2018).
Nirmala Aninda | 17 Juni 2018 19:22 WIB
Terusan Suez - Encyclopedia Britannica

Bisnis.com, JAKARTA -- Pendapatan Mesir dari Terusan Suez untuk tahun keuangan 2017 - 2018 naik 11,5% atau merupakan rekor tertinggi, menjadi sebesar $5.585 miliar, otoritas kanal mengatakan dalam sebuah pernyataan di situsnya pada Minggu (17/6/2018).

Dilansir melalui Reuters, pendapatan setahun sebelumnya adalah $5.008 miliar. Namun, tahun keuangan belum selesai, tahun fiskal Mesir berlangsung mulai 1 Juli hingga akhir Juni.

Otoritas Kanal Suez tidak menjelaskan mengapa mereka merilis angka menjelang akhir tahun fiskal.

Mereka mengumumkan pada Sabtu (16/6/2018) bahwa ada peningkatan pendapatan pada bulan Mei dan meramalkan kenaikan angka tahunan akan mencetak rekor, hal ini disebabkan oleh peningkatan perdagangan internasional dan perbaikan dalam industri pelayaran.

Mesir di bawah kepemimpinan Presiden Abdel Fattah al-Sisi menginvestasikan sejumlah dana untuk perluasan kawasan Kanal Suez yang mulai dikerjakan pada 2014.

Pekerjaan ini merupakan salah satu mega proyek sang mantan komandan militer, dirancang untuk menghidupkan kembali ekonomi yang sedang sulit dan memulihkan kembali negara sebagai pusat perdagangan yang dianggap penting.

Keuangan Mesir terpukul parah oleh kerusuhan yang mengikuti pemberontakan besar-besaran pada 2011 silam yang menggulingkan pemimpin lama Hosni Mubarak.

Kritikus telah mengecam beberapa proyek pemerintahan yang baru termasuk ekspansi Suez yang dianggap sebagai pemborosan uang.

Kairo juga memberlakukan langkah penghematan melalui dana pinjaman sebesar $12 miliar atau sekitar Rp160 triliun dari International Monetary Fund (IMF), yang menurut sejumlah ekonom dapat membantu perekonomian Mesir kembali ke jalurnya, namun kebijakan tersebut justru 'menyerang' ekonomi rakyat biasa.

Tag : mesir
Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top