Sinergi Ekonomi NTB: Inovasi & Integrasi Adalah Kunci

Berkaca dari problematika perekonomian daerah di NTB di atas, sudah saatnya pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan bersatu padu saling membahu dalam memformulasikan cara terbaik agar ekonomi NTB bisa bertumbuh lebih signifikan.
Eka Chandra Septarini | 08 Juni 2018 11:55 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Tak dapat dipungkiri bahwa pariwisata Nusa Tenggara Barat saat ini dalam usaha untuk melaju bersama kawasan-kawasan wisata lainnya. Berbagai pembangunan dan pengembangan dilakukan agar bisa memacu pertumbuhan ekonomi daerah.

Sebagai salah satu sektor yang memiliki dampak yang luas terhadap industri lainnya, pariwisata diharapkan mampu menjadi salah satu pembangkit ekonomi Bumi Seribu Masjid ini dengan kontribusi di atas 20%.

Industri kreatif, merupakan salah satu yang akan ikut merasakan manisnya pertumbuhan pariwisata. Beragam atraksi dan pergelaran hingga berbagai macam cendera mata dari industri kreatif ini bisa turut mendorong kemajuan industri ini.

Beberapa waktu lalu dalam kunjungannya ke KEK Mandalika, Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga pernah mengatakan bahwa pariwisata harus bisa mendukung masyarakat lokal dengan cara pengembangan UMKM yang bisa menjadi mata pencaharian utama masyarakat setempat.

Satu hal yang menjadi catatan Puspayoga, masyarakat sebagai penggerak utama usaha tersebut perlu memiliki pemahaman bagaimana cara melakukan pemasaran yang baik dan efektif.

Selama ini, citra para pedagang di kawasan wisata khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) lekat dengan cara 'menodong' wisatawan. Penjual tidak akan pergi jika barang dagangannya belum dibeli oleh wisatawan yang sudah 'diincar'.

“Mindset seperti ini perlu diubah dengan pola-pola penjualan yang ramah dan penuh senyuman. Pembeli yang nantinya justru mendatangi penjual, bukan malah sebaliknya,” ujar Puspayoga.

Kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi pun menjadi hal yang penting ketika menjalankan sebuah bisnis selain kreatif dan ulet.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB Erica Zainul Majdi mengatakan bahwa komunikasi dan sosialisasi perlu juga didukung oleh kemampuan memanfaatkan teknologi.

Erica mengatakan, mental pengusaha di NTB saat ini harus terus ditingkatkan agar menjadi poin positif bagi para konsumen.

“Jadilah pengusaha yang memiliki personality yang sangat baik, pandai menjaga privasi dan santun dalam melayani konsumen, sehingga menjadi penilaian sangat positif bagi para konsumen,” ujar Erica.

Dengan mental tersebut, lanjut Erika, akan dapat membentuk citra positif sehingga konsumen yang berasal dari luar daerah akan datang lagi dan menjadikan NTB sebagai pilihan utama untuk berbelanja.

Selain itu, Erica juga mengajak peserta untuk memanfaatkan media sosial sebaik-baiknya khususnya dalam mendukung industri kreatif dan mendukung pengembangan bisnis.

Di NTB sendiri, industri dibedakan dalam tiga kelompok besar yaitu industri logam, industri agro, dan industri kreatif dan kerajinan. Saat ini, Dinas Perindustrian NTB terus berupaya memetakan dan mendata titik-titik potensial untuk industri kreatif dan kerajinan.

“Setelah satu tahun pisah dengan Dinas Perdagangan, kami tengah melakukan pendataan untuk lebih jauh lagi mengetahui potensi dari industri kreatif ini agar bisa digunakan untuk pengembangan dan pengarahan lebih lanjut,” ujar Kepala Dinas Perindustrian NTB, Baiq Eva Nurcahyaningsih.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian NTB pada 2016, cabang industri dengan jumlah unit usaha yang tertinggi adalah sektor kerajinan dengan 33.213 unit usaha yang mampu menyerap 62.957 orang tenaga kerja.

Sayangnya, dari jumlah keseluruhan unit usaha industri kerajinan, baru 679 unit yang merupakan industri formal dalam arti memiliki izin usaha. Sisanya, masih berupa industri nonformal

Pada 2016, Dinas Perindustrian juga mencatat nilai investasi di sektor kerajinan hampir Rp800 miliar. Angka ini terus meningkat sejak 2004 meskipun dengan peningkatan yang tidak terlalu besar. Sementara itu, nilai produksi di sektor kerajinan pada 2016 sebesar Rp1,3 triliun.

MATI SURI

Baiq Eva menyebut, salah satu yang menjadi fokus hingga 2019 adalah proses pengembangan industri kreatif agar mampu memenuhi kebutuhan pariwisata. Dua hal utama yang menjadi sasaran untuk pengembangan adalah kerajinan untuk oleh-oleh dan kerajinan untuk penggunaan di area hotel dan kawasan wisata.

Baiq Eva menyadari meskipun memiliki potensi yang besar, industri kreatif di NTB masih minim akan inovasi dan pengembangan produk. Hal ini membuat beberapa industri kreatif yang ada mati suri.

“Bisa kita lihat di Banyumulek yang menjadi pusat gerabah. Sekarang, mau tidak mau, harus diakui kalau ini sudah mulai menurun,” ujarnya.

Kendati demikian, pihaknya tidak bisa serta merta mencoret kerajinan gerabah dari daftar industri kreatif di NTB. Pasalnya, selain di Banyumulek, Lombok Barat, Eva juga menyebut masih ada beberapa titik lain yang menjadikan gerabah sebagai salah satu kerajinan untuk dijual.

Pihaknya telah melakukan pendekatan dengan para pengrajin agar bisa mencari inovasi produk lain agar bisa meningkatkan kembali daya saing gerabah sebagai salah satu produk industri kreatif asal NTB.

“Perlu untuk pengembangan produk-produk turunan. Seperti tenun misalnya, tidak hanya menghasilkan kainnya, tetapi dari kain tersebut bisa dijadikan sepatu, tas, atau baju. Jadi untuk proses pemasarannya juga bisa lebih luas,” papar Eva.

Minimnya kreativitas untuk industri kreatif di NTB juga diakui oleh Firmansyah, ekonom sekaligus dosen Universitas Mataram. Menurutnya, salah satu yang membuat lambatnya perkembangan industri kreatif di NTB adalah keberanian untuk melakukan invoasi produk.

“NTB punya peluang untuk berkembang di industri kreatif. Ada sentra yang tumbuh secara alami. Sayangnya, ini belum menemukan pola yang tepat untuk mengembangkannya seperti apa. Saya rasa tantangan terberat yang dihadapi itu dari inovasi,” ujarnya.

INTEGRASI KAWASAN

Firmansyah menyebutkan bahwa untuk mengintegrasikan industri kreatif dengan pariwisata tidak hanya dengan cara menawarkan dan menjual produk yang dihasilkan oleh industri kreatif kepada wisatawan.

Menurutnya, akan lebih baik jika ada integrasi kawasan sehingga selain menjual produk, wisatawan yang berkunjung juga bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda.

“Industri kreatif bukan hanya produknya melainkan ada sebuah konsentrasi kawasan yang terintegrasi. Saya pikir bisa diarahkan, selain sasarannya turis, bisa juga nanti diarahkan untuk masyarakat lokalnya,” ujar Firmansyah.

PT Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) yang merupakan pengelola kawasan Mandalika pun telah menyiapkan Mandalika Bazaar yang menjadi zona usaha mikro, kecil, dan menengah guna menawarkan produknya.

Zona ini akan dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektare dan direncanakan dapat menampung sekitar 300 pelaku UMKM.

Direktur Utama ITDC Abdulbar M Mansoer mengatakan, para pelaku usaha di zona ini akan diprioritaskan berasal dari UMKM lokal yang selama ini telah berjualan di kawasan Mandalika. Saat ini, progres fisik pembangunan Mandalika Bazar telah mencapai 23,97%.

“Sistemnya sewa dengan biaya ringan. ITDC secara berkala dan berkelanjutan juga akan melakukan pembinaan dan peningkatan kapasitas pelaku UMKM di sekitar kawasan Mandalika,” ujar Abdulbar.

Berkaca dari problematika perekonomian daerah di NTB di atas, sudah saatnya pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan bersatu padu saling membahu dalam memformulasikan cara terbaik agar ekonomi NTB bisa bertumbuh lebih signifikan.

Inovasi produk demi memperkuat daya saing, sinergi antara UMKM dan sektor-sektor pariwisata di NTB, hingga mengubah pola pikir lama dan komunikasi para pebisnis dengan wisatawan, menjadi kunci yang harus disiapkan.

Tanpa adanya perbaikan dari hal-hal fundamental secara sinergis, pertumbuhan ekonomi daerah yang diharapkan bisa lebih kencang mungkin akan sulit diwujudkan dalam waktu singkat.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Jumat (8/6/2018)

Tag : ntb
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top