ISU PERANG DAGANG: Produsen Mobil Jepang Kritik Rencana Tarif Impor Kendaraan AS

Dilansir Reuters, JAMA mengungkapkan kenaikan tarif tersebut dapat memiliki dampak negatif pada pelanggan mereka AS dan industri kendaraan secara keseluruhan.
Aprianto Cahyo Nugroho | 08 Juni 2018 11:09 WIB
Akio Toyoda, ketua JAMA. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi produsen mobil Jepang (Japan Automobile Manufacturers Association/JAMA) pada Jumat (8/6/2018) mengkritik langkah Amerika Serikat yang menjajaki kemungkinan menaikkan tarif impor mobil yang berasal dari Jepang.

Dilansir Reuters, JAMA mengungkapkan kenaikan tarif tersebut dapat memiliki dampak negatif pada pelanggan mereka di AS dan industri kendaraan secara keseluruhan.

"Investigasi yang diluncurkan oleh Departemen Perdagangan Amerika Serikat untuk menentukan dampak impor mobil pada keamanan nasional... akan menciptakan ketidakpastian di kalangan pengguna mobil di AS dan orang-orang yang terlibat dalam industri kendaraan bermotor," ungkap Akio Toyoda, ketua JAMA dan dan Presiden Toyota Motor Corp, seperti dikutip Reuters, Jumat (8/6/2018)

Seperti diketahui diketahui, AS akhir bulan lalu meluncurkan penyelidikan keamanan nasional terhadap impor mobil dan truk yang dapat berujung pada kenaikan tarif impor pada salah satu produk ekspor utama Jepang ke AS.

KTT G7

Sementara itu, isu perang dagang juga diprediksi bakal mewarnai pertemuan puncak KTT G7 yang akan digelar di Kanada pada 8-9 Juni 2018.

Hal itu terkait dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mengenakan tarif impor tinggi kepada sejumlah negara, termasuk dinataranya yang masuk dalam kelompok G7 yang dinilai berisiko menyebabkan perang dagang global dan perpecahan diplomatik yang mendalam, seperti dikutip Reuters, Jumat (8/6/2018).

Dikemukakan, dalam upaya untuk membangun kembali industri Amerika, Trump telah memberlakukan tarif impor yang tinggi untuk impor baja dan aluminium, termasuk dari negara sekutu seperti Kanada, Jepang dan Uni Eropa.

Trump telah mengancam akan menggunakan undang-undang keamanan nasional untuk melakukan hal yang sama untuk impor mobil, dan telah kembali pada kesepakatan lingkungan dan kesepakatan internasional untuk mencegah Iran membangun bom nuklir.

Presiden Prancis Emmanuel Macron yang selama ini mempunyai hubungan yang hangat dengan Trump, mengatakan negara-negara G7 lainnya seperti Inggris, Kanada, Jerman, Italia dan Jepang, termasuk Prancis  harus tetap "sopan" dan produktif dan memperingatkan bahwa "tidak ada pemimpin selamanya, hal ini bisa menjadi pertanda bahwa Eropa tidak akan menyerah dengan sepenuh hati kepada sejumlah kebijakan Presiden AS.

"Mungkin presiden Amerika tidak peduli (bisa) erisolasi hari ini (KTT G7), tetapi kami tidak keberatan menjadi enam, jika perlu," kata Macron kepada wartawan seperti dikutip Reuters, Jumat (8/6/2018).

"Karena enam ini mewakili nilai, mewakili pasar ekonomi, dan lebih dari apa pun, mewakili kekuatan nyata di tingkat internasional saat ini," tambahnya lagi.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau memprediksikan dalam KTT puncak G7 akan terjadi diskusi yang “sengit” terkait perdagangan, tetapi anggota G7 lain seperti Jepang dan Italia tampaknya kurang ingin menantang Presiden AS.

Seperti diketahui, Amerika Serikat telah menetapkan tarif 25% untuk impor baja dan tarif 10% untuk impor aluminium dari Uni Eropa, Kanada, Meksiko dan Cina.

 

Tag : jepang, impor, amerika serikat
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top