Seminar Revolusi Mental dan Menghadapi Making Indonesia 4.0 Dibuka Hari Ini

Wakil Presiden Jusuf Kala membuka Seminar Revolusi Mental sebagai bagian dari program penguatan kapasitas pemimpin Indonesia dalam rangka mengantisipasi perubahan ke depan dan visi Making Indonesia 4.0.
Mia Chitra Dinisari | 07 Juni 2018 12:46 WIB
Ilustrasi - Reuters/Wolfgang Rattay

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kala membuka Seminar Revolusi Mental sebagai bagian dari program penguatan kapasitas pemimpin Indonesia dalam rangka mengantisipasi perubahan ke depan dan visi “Making Indonesia 4.0”.

Program tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) dan Yayasan Upaya Indonesia Damai (UID).

Program kepemimpinan yang dimulai pada hari ini dengan kuliah yang diberikan oleh Profesor Peter Senge dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), merupakan awal dari program peningkatan kapasitas kepemimpinan dengan pendekatan Systems Thinking dan U-Theory yang dikembangkan oleh dua profesor yaitu Peter Senge dan Otto Scharmer.

Peter Senge dikenal sebagai salah satu “guru” organisasi pembelajar (Organizational Learning) dengan pendekatan kepemimpinan sistem yang banyak mengangkat konsep systems thinking dan generative conversation. Buku beliau The Fifth Discipline: the Art and Practice of the Learning Organization telah dicetak sebanyak 2 juta eksemplar.

“Perubahan yang mendalam untuk mengakselerasi kemajuan dalam mengatasi isu kompleks yang dihadapi masyarakat saat ini memerlukan pemimpin berbasis sistem, seorang pemimpin yang dapat mengkatalisasi kepemimpinan kolektif.” Kata Profesor Peter Senge dalam siaran persnya.

Program penguatan kapasitas pemimpin Indonesia di tingkat pemerintah pusat dan daerah dirasakan penting mengingat perubahan dunia dan transformasi teknologi yang terjadi dengan pesat serta tantangan dalam mencapai pembangunan yang berkelanjutan.

Dampak dari perubahan-perubahan tersebut penuh dengan ketidakpastian dan berdampak luas karena lintas sektor, lintas isu, lintas kelompok dan lintas daerah. Untuk itu, diperlukan pemimpin yang tidak hanya responsif terhadap perubahan, tetapi juga gesit dalam mengantisipasi perubahan dengan mempersiapkan lembaga dan seluruh pihak terkait untuk menghadapi perubahan secara kolektif.

Hal tersebut memerlukan revolusi mental yang sering disinggung oleh Presiden Joko Widodo karena memerlukan gaya kepemimpinan berbasis sistem, bukan lagi kepemimpinan yang “silo”.

“Revolusi mental akan terus dijalankan untuk mengubah mindset negatif serta ketakutan terhadap revolusi industri 4.0,” tegas Wakil Presiden Jusuf Kala pada saat pembukaan Seminar.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman juga menyampaikan pesannya kepada seluruh peserta seminar, ia mengatakan, sekarang adalah saatnya kita mulai mengubah mindset pemimpin kita dan bekerja secara teamwork, tidak jalan sendiri-sendiri.

Dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 dan strategi Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan Presiden pada bulan April lalu, diperlukan pemimpin Indonesia yang memahami data, teknologi dan manusia, serta pendekatan yang kolektif dan kolaboratif.

Mohamad Nasir, Menteri Riset dan pendidikan Tinggi, menegaskan, menyediakan sumber daya manusia yang unggul dan menciptakan inovasi adalah hal terpenting dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Mutu pendidikan tinggi juga harus ditingkatkan.

Program peningkatan kapasitas kepemimpinan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan beberapa pembelajaran, diskusi, dan pertemuan terkait Metodologi Systems Thinking dan U-Theory, dan diterapkan di masing-masing organisasi sesuai konteks Indonesia maupun konteks isu prioritas dan daerah.
Metode pelatihan yang dilaksanakan bukan sekedar pelatihan biasa, tetapi diharapkan dapat menghasilkan suatu perubahan mind-set dan transformasi di tingkat individu, organisasi, maupun sistem secara luas.

“Revolusi mental untuk membentuk karakter kepemimpinan yang kuat tidak hanya diberikan dengan mengajarkan sifat-sifat mental yang baik, tetapi juga dengan menempatkan diri pemimpin dalam posisi dapat mendengar, merasakan, membuka pemikiran dan dapat mendorong aksi kolektif yang lebih bermakna,” ucap Agus Widjojo, Ketua Lemhanas dalam siaran persnya.

Esensi dari proses transformasi tersebut terdiri dari tiga tahap: pertama membuka pemikiran dan wawasan peserta (merubah asumsi yang selama ini menjadi pegangan), membuka hati (benar-benar mendengar dari semua pihak dan membuka diri agar bisa lebih empati), dan membuka kemauan untuk bertindak secara kolektif agar terjadi transformasi.

Untuk hal terakhir perlu dibangun keinginan dan kemampuan untuk membangun hubungan lintas sektor yang didasarkan pada rasa saling percaya sehingga memungkinkan terciptanya kolaborasi dan sinergi untuk mencari solusi dan aksi kolektif untuk mempersiapkan organisasi agar dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan bagi Indonesia.

“Metode pembelajaran sangat fleksibel sehingga bisa diterapkan pada sektor atau fokus isu apapun karena substansi pembelajaran dalam program ini adalah mengajak peserta untuk berpikir terbuka, hadir utuh dan sadar penuh dalam setiap kegiatan yang dilakukan, dan sebagai pemimpin harus rajin sensing atau blusukan sehingga peka terhadap isu ril di lapangan,” sambung Mari Elka Pangestu, Ketua Yayasan Upaya Indonesia Damai.

Yayasan UID bersama-sama dengan MIT telah mengembangkan Theory U dan Systems Thinking untuk berbagai program kepemimpinan di Indonesia melalui Program IDEAS (Innovative, Dynamic, Education, and Action for Sustainability) dimana setiap kelompok terdiri dari tri sektor (pemerintah, swasta dan masyarakat madani). Program IDEAS telah dilaksanakan sebanyak 6 kali dalam 10 tahun terakhir dan telah menghasilkan banyak transformasi kepemimpinan dan organisasi, di pemerintah daerah seperti Bojonegoro (Bupati Sunyoto), di berbagai kementerian (e.g. Pariwisata, Perdagangan), media, lembaga pendidikan dan LSM.
Dengan pendekatan yang sama dan berkolaborasi dengan Tsinghua University, UID juga telah melaksanakan Program Co-CLASS (Collaborative, Creative Learning and Action for Sustainable Solutions) yang juga terdiri dari kelompok tri sektor yang terkait dengan isu prioritas ketenagakerjaan yang dilaksanakan di Kementerian Ketenagakerjaan dan telah berhasil memajukan pemikiran kolektif dan aksi bersama untuk beberapa isu ketenagakerjaan, seperti kerjasama tripartit yang lebih efektif, pelayanan kementerian yang lebih baik, serta bagaimana menghadapi perubahan teknologi dalam pekerjaan. Saat ini, Program Co-CLASS juga sedang berlangsung dengan isu menghadapi revolusi industri 4.0 di Kementerian Perindustrian.

Program IDEAS kelompok ke-6 , dimana Peter Senge sebagai salah satu pengajarnya, juga akan dilaksanakan selama tiga hari di Learning Hub baru Yayasan UID di Jalan Hayam Wuruk. Pelatihan IDEAS 6.0 terutama dalam pengembangan prototipe yang mereka kerjakan sebagai proyek transformasi. Peserta IDEAS 6.0 termasuk perwakilan dari beberapa Kementerian seperti Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perdagangan, LAN, Pemerintah Daerah dari Lampung dan Bali, akademisi dari berbagai universitas, DPR, LSM, dan swasta dari berbagai bidang termasuk sektor start-ups.

Selain itu, akan dilaksanakan pula sesi dialog bersama Peter Senge dengan komunitas pelatih dan pengguna U-Theory dan Systems Thinking yang ada di Indonesia di Learning Hub, Yayasan UID.

Yayasan Upaya Indonesia Damai (UID) adalah lembaga nirlaba yang dibentuk pada tahun 2003 dengan visi untuk membangun masa depan bersama yang berbasis rasa saling percaya antara semua pemegang kepentingan. UID telah dan sedang melakukan sejumlah program kepemimpinan dan program peningkatan kapasitas untuk mencapai visi tersebut, seperti IDEAS dan Co-CLASS. UID juga berperan sebagai koordinator UN SDSN Indonesia dan sekretariat UN SDSN SEA.

UID dan SDSN Indonesia telah melakukan kolaborasi dengan Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Paramadina, dan dengan pihak internasional seperti MIT dan Tsinghua University dalam rangka program-program tersebut.

Tag : Revolusi Industri 4.0
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top