Kasus Dugaan Penipuan KMP Terus Diselidiki

Kasus dugaan penipuan dan penggelapan terkait dengan jual beli properti masih saja kerap menimpa konsumen. Kali ini, Badan Reserse dan Kriminal Polri diketahui menerima laporan dugaan penipuan yang melibatkan PT Kemuliaan Mega Perkasa (KMP).
Stefanus Arief Setiaji | 31 Mei 2018 13:55 WIB

Kabar24.com, JAKARTA — Kasus dugaan penipuan dan penggelapan terkait dengan jual beli properti masih saja kerap menimpa konsumen. Kali ini, Badan Reserse dan Kriminal Polri diketahui menerima laporan dugaan penipuan yang melibatkan PT Kemuliaan Mega Perkasa (KMP).

KMP merupakan pengembang kawasan hunian apartemen, Kuningan Place.

Dalam surat No. B/877/XII/2017/Dit Tipidum Bareskrim yang diterbitkan pada 21 Desember 2017, Bareskrim Polri menetapkan salah satu petinggi PT Kemuliaan Mega Perkasa bernama Valent Yusuf sebagai tersangka.

Berdasarkan laporan ke Bareskrim, Valent Yusuf tidak sendiri. Salah satu petinggi lain bernama Indri Gautama juga turut dilaporkan kepada polisi. Indri Gautama diketahui berprofesi sebagai seorang pendeta dan pemilik Gereja Generasi Aspostolik.

Dalam keterangan resmi Kamis (31/5/2018), Kasus dugaan penipuan itu bermula pada November 2011 saat PT Brahma Adhiwidia membeli unit kantor komersial dari Indri Gautama yang saat itu mengaku sebagai pemegang saham sekaligus Komisaris Utama KMP. Valent Yusuf diketahui sebagai direktur utama di Kemuliaan Mega Perkasa.

Sejak proses pembelian hingga berujung laporan ke polisi, Brahma Adhiwidia tidak memperoleh sertifikat kepemilikan kantor komersial yang telah dibeli. Tidak hanya Brahma, pemilik unit apartemen di Kuningan Place juga diketahui belum menerima sertifikat kepemilikan.

Selain itu, ada indikasi bahwa kawasan kantor komersial yang pernah ditawarkan oleh pihak KMP melalui Indri Gautama sejatinya peruntukannya untuk fasilitas umum dan fasilitas sosial bagi penghuni apartemen di kawasan Kuningan Place.

Selain itu, KMP juga diketahui mengubah fungsi kantor komersial dari lantan ke-6 sampai dengan lantai ke-11 tanpa persetujuan terlebih dahulu Brahma Adhiwidia. Padahal, Brahma Adhiwidia merupakan pemilik dua unit kantor komersial di kawasan itu dengan menempati lantai ke-7 dan lantai ke-8.

Indri Gautama bersama dengan Valent Yusuf membuat surat keterangan palsu yang dikirimkan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengubah rencana tata letak dan bangunan (RTLB).

Tag : penipuan
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top