BPIP Sebut 5 Tantangan Membumikan Pancasila

Pancasila selama ini hanya menjadi jargon dan lambang sehingga belum dimaknai sebagai sebuah daya gerak atau inspirasi untuk menghadirkan rasa kepemilikan terhadap suatu bangsa.
Amanda Kusumawardhani | 31 Mei 2018 11:35 WIB
Seorang mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Korps Putri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (KOPRI PB PMII) melakukan aksi di Depan Istana Merdeka Jakarta, Senin (1/6). Aksi yang diikuti puluhan mahasiswa itu untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. - Antara/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyatakan ada lima tantangan untuk membumikan Pancasila di kalangan masyarakat dewasa ini.

Menginjak Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada Jumat (1/6), momentum ini seakan menjadi pengingat bagi bangsa bahwa Pancasila belum dikenal secara luas. Tidak hanya dari segi fisik, tapi juga pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pieter, Tenaga Ahli BPIP mengatakan Pancasila selama ini hanya menjadi jargon dan lambang sehingga belum dimaknai sebagai sebuah daya gerak atau inspirasi untuk menghadirkan rasa kepemilikan terhadap suatu bangsa.

Setidaknya, dia memerinci ada lima tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia untuk membumikan Pancasila yakni tantangan historis, inklusivitas, kesenjangan sosial, keteladanan, dan pelembagaan.

"Pemahaman tentang Pancasila beserta kelahirannya yang simpang siur, sehingga tidak jarang menimbulkan kegaduhan politik antara pro Pancasila dan anti Pancasila," katanya di Jakarta, Kamis (31/5).

Persoalan sejarah ini, menurutnya, menjadi biang dari timbulnya kelompok yang bersepakat mendirikan Negara Indonesia berdasarkan bukan Pancasila.

Sejak reformasi 1998, Pancasila tidak lagi diajarkan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Oleh sebab itu, BPIP tengah menyusun naskah otentik Pancasila sehingga tidak lagi ada kesalahpahaman mengenai sejarah Pancasila.

Poin kedua yakni inklusivitas juga tengah menggerogoti pandangan kemajemukan Indonesia sehingga timbul adanya paham yang menjelekkan pandangan yang lain atau sesuatu yang berbeda.

Selanjutnya adalah kesenjangan sosial yang harus dipandang sebagai tujuan dari Pancasila. Keempat adalah keteladanan yang harusnya menjadi cermin praktek kebangsaan di negara ini.

Terakhir adalah soal kelembagaan. Pieter menambahkan belum adanya pelembagaan praktek Pancasila menyebabkan banyak kebijakan yang tumpang tindih dan tidak sinkron.

 

Tag : pancasila
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top