Ketika Puasa Justru Meningkatkan Konsumsi, Apa yang Salah?

Padahal, menurut hadis dari Abu Hurairah r.a., setan dan jin yang jahat dan kerjanya menggoda manusia dibelenggu pada bulan ini, pintu-pintu neraka ditutup, dan gerbang surga dibuka lebar-lebar. Kalau setannya sudah dibelenggu, lalu siapa yang menggoda kita sehingga tetap boros dalam mengonsumsi?
M. Taufikul Basari | 21 Mei 2018 21:14 WIB
Anak yatim berbuka puasa. - Antara

Selamat datang Bulan Ramadan. Bulan untuk mengasah jiwa, mengasah ketajaman pikiran dan kejernihan hati. Semoga puasa dapat membakar sifat-sifat tercela dan kelebihan dosa kita.

Ada banyak sebutan untuk Ramadan di kalangan muslim, di antaranya bulan Alquran karena pada bulan inilah Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan, sejumlah riwayat juga menyebut Zabur, Taurat, dan Injil juga diturunkan pada bulan yang sama.

Nama lainnya adalah bulan kedermawanan lantaran di bulan ini umat Islam sangat dianjurkan untuk bersedekah, terutama untuk meringankan beban fakir dan miskin. Nabi memberi keteladanan terbaik sebagai orang yang paling dermawan pada bulan suci.

Bisa dibilang, Ramadan adalah bulan yang sarat makna dengan muara pada kemenangan dalam mengatasi hawa nafsu, egoisitas, keserakahan, dan ketidakjujuran. Puasa jadi ajang menggembleng diri agar saleh secara personal dan sosial. Itu adalah pilihan.

Musababnya adalah ada satu lagi julukan lagi di luar nama-nama yang sudah dikenal itu. Ramadan bisa disebut bulan konsumsi lantaran ada fenomena peningkatan permintaan kebutuhan pokok. Peningkatan konsumsi ini bisa dibilang kontradiktif dengan semangat puasa itu sendiri yang mengajarkan untuk menahan diri.

Dampaknya adalah harga berbagai kebutuhan pokok—terutama bahan pangan—naik tajam, bahkan sebelum Ramadan benar-benar dijelang. Harga pangan biasanya bertolak belakang dengan harga sandang yang dihujani diskon besar-besaran. Namun, intinya tetap sama, konsumsi meningkat tajam.

Padahal, menurut hadis dari Abu Hurairah r.a., setan dan jin yang jahat dan kerjanya menggoda manusia dibelenggu pada bulan ini, pintu-pintu neraka ditutup, dan gerbang surga dibuka lebar-lebar. Kalau setannya sudah dibelenggu, lalu siapa yang menggoda kita sehingga tetap boros dalam mengonsumsi?

Salah satu ayat Alquran bahkan tegas menyebut orang yang berlaku boros adalah saudaranya setan. Boros sendiri bisa diartikan membelanjakan harta pada jalan yang keliru.

Selain kebutuhan pangan, konsumsi layanan data seluler juga meningkat tajam. Salah satu provider paling dominan di Tanah Air memprediksi kenaikan mencapai 40% dibandingkan dengan saat normal. Bahkan, kenaikan akan mencapai 137% dibanding periode yang sama tahun lalu karena terus naiknya penggunaan ponsel pintar.

Penggunaan data pun lebih banyak untuk mengakses media sosial, seperti Youtube, Instagram, Facebook, dan Whatsapp. Padahal, media sosial banyak digunakan untuk ghibah, bahkan beberapa dipakai untuk fitnah.

Kalau kita cermati, banyak tema-tema politik di media sosial cenderung mengarah kepada perang wacana yang dapat memicu konflik horizontal di tengah masyarakat. Tema pemilihan umum kepala daerah serentak dan pemilihan presiden pun akan bertarung dengan tema-tema ukhuwah Islamiyah. Soal siapa yang menang, sepertinya mudah ditebak. 

Oleh karena itu, layaklah kiranya kita mempertimbangkan untuk puasa konsumsi media sosial yang cenderung mengarah pada ghibah, apalagi fitnah. Selain tak sehat untuk pikiran dan mental, ghibah atau bergunjing jelas-jelas dilarang agama. Allah menyamakan mengghibah dengan memakan bangkai saudaranya sendiri yang dighibahi.

Sama seperti makan, konsumsi media sosial berlebihan dapat menganggu kesehatan mental kita.

Sebaliknya, spirit Ramadan adalah produktif memanfaatkan harta dan waktu di jalan yang benar, tidak saja dalam ibadah individual tetapi juga sosial. Tidak hanya melulu soal salat, zikir, atau membaca Alquran, tetapi seluruh tindakan yang disukai Tuhan, termasuk bekerja dengan baik dan bermedia sosial yang sopan. Maka, kita berharap pertumbuhan ekonomi di Ramadan tidak hanya disokong konsumsi, tapi juga produktivitas kita.

Jangan sampai bulan puasa justru menjadi ajang hura-hura dan pemborosan. Ingat juga kesehatan Anda.

Tag : Ramadan
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top