Regulator Derivatif AS Ajukan Fleksibilitas Aturan Perdagangan SWAP

Kepala pemantau transaksi derivatif Amerika Serikat akan memberikan fleksibilitas lebih untuk perdagangan Swap dan memperketat persyaratan untuk laporan perdagangan tersebut.
Dwi Nicken Tari | 26 April 2018 17:50 WIB
Ilustrasi - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Kepala pemantau transaksi derivatif Amerika Serikat akan memberikan fleksibilitas lebih untuk perdagangan Swap dan memperketat persyaratan untuk laporan perdagangan tersebut.

Christopher Giancarlo, Kepala Komisi Perdagangan Komoditas Berjangka (CFTC) Amerika Serikat mengungkapkan dukungannya terhadap regulasi transaksi Swap yang diperkenalkan setelah krisis keuangan 2007-2009. Namun, dia menilai, aturan tersebut memiliki beberapa konsekuensi.

“Dengan menjadi Kepala [CFTC], saya pikir ini wajar untuk membuat reformasi yang komprehensif. Dengan mempertimbangkan apa yang yang telah bekerja dengan baik dan hasilnya, kemudian apa yang tidak bekerja dengan baik dan cara kita bisa bekerja lebih baik lagi,” kata Giancarlo, seperti dikutip Reuters, Kamis (26/4/2018).

Oleh karena itu, Giancarlo mengajukan proposal baru, bagian dari cetak biru kebijakan 103 halaman, sebagai revisi atas aturan Swap yang dijadikan hukum pada 2010 dalam UU Dodd-Frank.

UU Dodd-Frank sebelumnya memperkenalkan aturan perdagangan, pelaporan, manajemen risiko, dan aturan modal dengan tujuan mengurangi risiko di dalam pasar derivatif AS setelah Lehman Brothers bangkrut pada 2008 karena besarnya tumpukan Swap.

Giancarlo menambahkan sementara hukum UU Dodd-Frank masih digunakan, beberapa implementasi dari aturan CFTC itu kini sudah tidak relevan lagi untuk beberapa kasus.

Giancarlo yang sebelumnya menjabat sebagai komisioner minoritas di CFTC memang dalam beberapa tahun terakhir gencar mengomentari bahwa CFTC keliru dalam menjalankan model perdagangan valuta berjangka dalam pasar derivatif.

Adapun berkas proposal baru itu juga menyebutkan, aturan perdagangan Swap oleh SFTC telah menyebabkan terjadinya friksi dalam likuiditas secara global serta menekan pemulihan harga jauh dari transparansi platform bursa.

Oleh karena itu, proposal itu menunjukkan, beberapa permasalahan tersebut dapat diperbaiki dengan mengizinkan lebih banyak mekanisme eksekusi yang lebih fleksibel.

Giancarlo menambahkan, aturan baru ini bukan untuk melemahkan kebijakan yang sudah ada, tetapi untuk membentuk keseimbangan baru antara keamanan dan semangat pasar.

Pasalnya cetak biru itu mengarah pada pembentukan data baru, feedback industri, dan input akademik dari spektrum politik untuk pasar derivatif.

“Kami bukan membatalkan yang sudah ada, kami berupaya meningkatkannya, mengoptimalkannya,” imbuhnya.

Selain itu, proposal tersebut juga merekomendasikan untuk memberikan pengetatan dalam persyaratan laporan data Swap, dengan memberikan informasi yang lebih spesifik atas perdagangan dan risiko potensialnya.

Proposal itu juga mengapresiasi kebijakan UU Dodd-Frank untuk menekan perdagangan lewat penyelenggara kliring mendapatkan kesuksesan besar karena banyak perdagangan yang mendapatkan jaminan atas risiko default pihak lawan.

Adapun proposal yang memiliki banyak perubahan yang mengacu kepada cetak biru milik Giancarlo ini seterusnya harus memenangkan suara di Komisi AS, atau dalam beberapa kasus harus dinilai oleh Federal Reserve dan regulator internasional

Adapun Swap adalah transaksi pertukaran dua valas melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka, atau penjualan tunai dengan pembelian kembali secara berjangka. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kepastian kurs (kurs bersifat tetap selama kontrak), sehingga dapat menghindari keugian selisih kurs. 

Tag : ekonomi as
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top