Perwakilan AS Akan Kunjung China, Analis Menilai Kesepakatan Sulit Tercapai

Presiden AS Donald Trump mengirimkan dua perwakilan ekonominya ke China dengan harapan mencapai kesepakatan dalam hubungan perdagangan. Di sisi lain, analis menilai kesepakatan akan sulit tercapai.
Dwi Nicken Tari | 26 April 2018 11:21 WIB
Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin - Reuters/Fred Prouser

Kabar24.com, JAKARTA – Presiden AS Donald Trump mengirimkan dua perwakilan ekonominya ke China dengan harapan mencapai kesepakatan dalam hubungan perdagangan. Di sisi lain, analis menilai kesepakatan akan sulit tercapai.

Trump menyampaikan bahwa Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin ditemani Kepala Perwakilan Perdagangan AS (USTR) Robert Lightizer akan meluncur ke Beijing dalam beberapa hari ke depan.

“Kami memiliki kesempatan yang sangat baik untuk membuat kesepakatan,” ujar Sang Presiden tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (26/4/2018).

Trump menambahkan, jika kesepakatan tidak tercapai, AS akan melancarkan rencananya untuk mengenakan tarif setidaknya sebesar US$150 miliar atas produk impor asal China.

Adapun China juga telah berikrar akan membalas dengan tarif yang sama untuk semua produk impor asal Negeri Paman Sam, mulai dari kacang kedelai hingga pesawat terbang.

Terbaru, tensi kedua negara semakin memburuk setelah AS memberikan sanksi kepada ZTE Corp. dan Huawei Technologies Co. karena kedua perusahaan melakukan pelanggaran.

Lebih lanjut, jika melihat sejarahnya, perjalanan dua perwakilan AS ini hanya akan menghabiskan waktu dalam upacara panjang dan hanya sedikit memberikan hasil konkrit.

Seperti ketika Trump mengunjungi Beijing pada November, dia dilayani dengan perjamuan mewah di Forbidden City. Kesepakatan yang diumumkannya seketika menjadi janji yang tidak mengikat.

Kemudian, rencana aksi 100 hari mengenai perdagangan yang diumumkan tahun lalu dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara Trump dan Presiden China Xi Jinping akhirnya tidak memecahkan masalah perdagangan dan dialog resmi dua arah mengenai ekonomi pun tidak pernah terdengar lagi.

“Tampaknya tidak mungkin keduabelah pihak akan mencapai kesepakatan untuk mencegah pengenaan tarif, mengingat kredibilitas keduanya dalam memecahkan permasalahan,” ujar Michael Hirson, Head of China Research Eurasia Group di New York dan Mantan Kepala Perwakilan Departemen Keuangan AS di Beijing.

Dia menjelaskan, Beijing tidak akan mengambil langkah yang signifikan karena Jin Ping terlalu percaya diri dengan kekuatan politisnya dan bertekad membela diri dari tekanan Trump.

Analis pun menilai tidak ada kejelasan dari apa yang diinginkan oleh AS. Pasalnya, Mnuchin sempat berunding dengan PM China Liu He untuk mendapatkan izin memasuki sektor layanan otomotif dan keuangan Negeri Panda.

Di sisi lain, Trump menginginkan China untuk mengurangi surplus perdagangan dengan AS sebesar US$100 miliar secara tahunan dan menuntut China agar mengurangi industri berteknologi tingginya. Adapun AS memiliki defisit perdagangan dengan China sebesar US$375 miliar tahun lalu.

“Hasil dari dikusi ini tampak suram,” kata Gai Xinzhe, analis Bank of China di Beijing.

Adapun kekhawtiran dari perselisihan dagang dua ekonomi terbesar di dunia ini telah membingungkan pasar. Selain itu, Dana Moneter Internasional (IMF) juga mengingatkan bahwa tensi perdagangan dapat merusak pemulihan ekonomi global sejak 2011.

Begitu juga pebisnis seperti Kamar Dagang AS dan Dewan Lobi AS yang mewakili mayoritas perusahaan teknologi telah meminta Trump untuk menghindari perselisihan lebih lanjut karena dapat merusak rantai penawaran dan meningkatkan harga konsumen.

Tag : ekonomi as, ekonomi china
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top