Traktat Perdamaian Korea, Korut akan Menang di Sektor Ekonomi?

Perdamaian di Semenanjung Korea akan menawarkan manfaat ekonomi yang besar bagi negara terkucil, Korea Utara, alih-alih Korea Selatan yang telah lebih dulu berkembang.
Dwi Nicken Tari | 25 April 2018 11:16 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara dengan delegasi Korea Selatan yang dipimpin oleh Chung Eui-yong di Pyongyang, Korea Utara, 6 Maret 2018. - Reuters

Kabr24.com, JAKARTA – Perdamaian di Semenanjung Korea akan menawarkan manfaat ekonomi yang besar bagi negara terkucil, Korea Utara, alih-alih Korea Selatan yang telah lebih dulu berkembang.

Ekspektasi bermunculan untuk akhir dari perselisihan panjang antara dua Korea menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara para pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan pada Jumat (27/4/2018).

Adapun jika kesepakatan tercapai, hal itu akan membuka pintu bagi rencana Presiden Korea Selatan Moon Jae-in untuk mengembangkan “Three Economic Belts” yang menghubungkan dua negara, serta membuka kesempatan bisnis dan investasi untuk perusahaan Korea Selatan.

Namun, jika menilai aspek perekonomian antar-Korea, Korea Utara lah yang akan tampil sebagai pemenang karena manfaat ekonomi untuk Korea Selatan tampak terbatas.

“Dividen perdamaian hanya akan menguntungkan Korea Utara daripada Korea Selatan, dan itulah alasan [Presiden Korut] Kim Jong Un mendorong semua ini,” kata Thomas Byrne, Pimpinan Masyarakat Korea di New York dan mantan Wakil Pimpinan Moody’s Investor Service seperti dikutip Bloomberg, Rabu (25/4/2018).

Kendati ada tanda-tanda bahwa ketegangan akan mencair, risiko besar tetap mewarnai terciptanya tratktat resmi perdamaian dan pembukaan ekonomi Korea Utara.

Seperti yang disampaikan Presiden Moon pekan lalu, meskipun KTT akan memimpin jalan menuju perdamaian, tetapi implementasi untuk kebijakan denuklirisasi menjadi tantangan tersendiri.

Meskipun demikian, analis Meritz Securities di Seoul menyatakan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membayangkan persatuan Semenanjung Korea.

“Jika rezim komunis akhirnya membuka diri, hal itu dapat melambungkan imbal hasil investasi untuk sektor transportasi, infrastruktur, dan fasilitas tenaga listrik. Unifikasi dua Korea juga dapat memberikan penawaran stabil untuk sumber daya mineral dari Korut,” tulis Meritz Securities dalam laporan April 2018.

Adapun saham di beberapa perusahaan Korsel telah melonjak dalam beberapa pekan terakhir dipicu ekspektasi kesepakatan perdamaian akan membawa banyak manfaat.

Kendati demikian, Zang Hyoungsoo, Profesor Ekonomi di Hanyang University, Seoul, mengingatkan untuk tidak terlalu naïf dengan berharap semua manfaat akan diterima oleh Korea Selatan.

“Jika Korea Utara diakui sebagai negara normal dan memiliki hubungan diplomatik, perusahaan Korea Selatan akan berkompetisi dengan China dan lainnya untuk mengambil kesempatan mengembangkan infrastruktur,” kata Zang.

Dia menambahkan, selama perbatasan nasional masih ada, tidak akan ada batasan yang jelas mengenai apa yang bisa diperbuat Korea Selatan terhadap perekonomian Korea Utara.

Di sisi lain, meskipun prospek reunifikasi dua Korea dalam jangka pendek dan menengah tampak seperti pilihan terbaik, membicarakan tentang ekonomi memang yang paling hangat dibicarakan.

“Menggabungkan populasi Korut sebanyak 25 juta jiwa dan Korsel sebanyak 50 juta jiwa akan menciptakan negara sebesar Jerman. Dengan populasi muda dari Utara, tantangan demografi di Selatan pun dapat terbantu,” kata ekonom Bloomberg, Justin Jimenez dan Tom Orlik. 

Tag : korea utara, korea selatan
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top