IMF: Waspadai Peningkatan Populasi Tua dan Penurunan Produktifitas

Meskipun Dana Moneter Internasional (IMF) mempreoyeksikan positif laju pertumbuhan ekonomi global, lembaga internasional itu tetap mengingatkan adanya potensi pelemahan dalam beberapa tahun ke depan.
Dwi Nicken Tari | 18 April 2018 09:36 WIB
Dana Moneter Internasional memaparkan World Economic Outlook 2018, dipandu oleh Asisten Khusus Direktur Departemen Komunikasi IMF Olga Stankova menghadirkan Penasehat Ekonomi dan Direktur Departemen Penelitian IMF Maurice Obstfeld (kedua dari kanan), Wakil Direktur Departemen Riset IMF Gian Maria Milesi-Ferretti (kedua dari kiri) dan Wakil Kepala Divisi Bidang Studi Ekonomi Dunia Departemen Riset IMF Malhar Nabar (kiri), Selasa (17/4/18) - Bisnis / David Eka Issetiabudi

Kabar24.com, JAKARTA - Meskipun Dana Moneter Internasional (IMF) mempreoyeksikan positif laju pertumbuhan ekonomi global, lembaga internasional itu tetap mengingatkan adanya potensi pelemahan dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam laporan terbarunya, IMF mengatakan pelemahan di sejumlah negara ekonomi maju selanjutnya akan menyeret laju pertumbuhan ekonomi negara emerging market dan negara berkembang menjadi berada di bawah laju PDB per kapita milik negara maju untuk lima tahun ke depan.Hal itu bisa terjadi seiring peningkatan populasi tua dan produktivitas menurun.

“Pertumbuhan AS akan melambat di bawah laju potensialnya karena dampak dari kebijakan fiskal baru-baru ini akan menguap. Pertumbuhan diperkirakan akan tetap di bawah standar untuk beberapa negara emerging market dan negara ekonomi berkembang. Termasuk di beberapa negara eksportir komoditas yang harus menyesuaikan dengan kebutuhan kebijakan fiskalnya,” tulis IMF dalam riset yang dirilis Senin (17/4/2018).

Perlambatan tersebut dapat menjadi tantangan bagi outlook pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah meskipun harapan pemulihan investasi masih dapat menopang laju pertumbuhan potensial global.

Adapun dalam jangka pendek, kebijakan proteksionisme yang dilancarkan oleh Amerika Serikat belakangan ini diperkirakan IMF dapat mengganggu proses pemulihan perdagangan global.

Pengenaan tarif impor logam dari Amerika Serikat dan tarif impor tambahan untuk produk elektronik asal China untuk AS telah mendapatkan tarif retaliasi dari China. Hal ini dipandang IMF sebagai pengingat bahwa harga aset dapat terkoreksi tajam dan memicu penyesuaian dari terganggunya potensi portofolio.

“Peningkatan hambatan tarif dan nontarif dalam perdagangan dapat merusak sentimen, mengganggu rantai penawaran, menghambat penyebaran teknologi baru, dan mengurangi produktivitas global serta investasi,” tulis IMF.

 Oleh karena itu, IMF mengingatkan, agar para pembuat kebijakan di setiap negara mengambil momentum pemulihan ekonomi sekarang ini untuk menguatkan reformasi kebijakannya.

 IMF memaparkan, reformasi kebijakan yang diambil harus fokus untuk menguatkan potensi pertumbuhan yang lebih baik dan inklusif, membangun penyangga untuk menghadapi tren negatif, dan meningkatkan ketahanan keuangan untuk membendung risiko dan instabilitas pasar, serta mempererat kerjasama internasional. 

Tag : ekonomi global, imf
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top