Pelacakan Data Facebook Diragukan

Sejumlah advokat dan anggota parlemen AS menilai Pendiri Facebook Inc, Mark Zuckerberg tidak menjelaskan sejauh mana Facebook melakukan pelacakan.
M. Richard | 16 April 2018 18:36 WIB
Logo Facebook dalam bentuk 3 dimensi. - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Sejumlah advokat dan anggota parlemen AS menilai Pendiri Facebook Inc, Mark Zuckerberg tidak menjelaskan sejauh mana Facebook melakukan pelacakan.

"Dia sengaja, berpura-pura tidak memahami beberapa pertanyaan, dia tidak menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam operasi Facebook," kata teknolog staf senior di American Civil Liberties Union Daniel Kahn Gillmor, seperti dikutip Bloomberg, Senin (16/4/2018).

Misalnya, kata Gillmor, pengumpulan itu dilakukan untuk alasan keamanan, tetapi mereka tidak menjelaskan lebih lanjut apakah itu juga digunakan untuk pengukuran atau analitik. Dia menuding, Facebook memiliki insentif bisnis untuk menggunakan data non-pengguna untuk menargetkan iklan. Namun, Zuckerberg menolak untuk berkomentar.

Gillmor mengatakan Facebook dapat membangun basis data pada non-pengguna dengan menggabungkan riwayat penelusuran web dengan kontak yang diunggah. Namun, berdasarkan pernyataan Facebook pada hari Jumat (13/4), hal tersebut tidak dilakukan.

The American Civil Liberties Union (ACLU) mendorong anggota parlemen AS untuk memberlakukan Undang-Undang privasi yang luas termasuk persyaratan untuk persetujuan sebelum pengumpulan data.

Tantangan pengaturan pertama untuk perlakuan Facebook kepada non-pengguna mungkin datang bulan depan ketika Undang-Undang Uni Eropa baru diterbitkan, yang dikenal sebagai Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR). Adapun, nantinya perusahaan membutuhkan pemberitahuan dan persetujuan sebelum pengumpulan data.

"Minimal, Facebook harus memikirkan cara-cara untuk menyusun teknologi mereka untuk memberikan pemberitahuan yang tepat," kata Profesor ilmu hukum dan ilmu komputer Woodrow Hartzog.

"Produk dan layanan kami sesuai dengan hukum yang berlaku dan akan mematuhi GDPR," pernyataan Facebook pada Jumat lalu.

Seorang profesor hukum Universitas Miami Michael Froomkin mengatakan, jaringan sosial harus bijaksana dalam mengenali hak penggunanya untuk mengetahui.

Jika saya bukan pengguna, seharusnya saya tahu data apa saja yang dimiliki oleh Facebook tentang saya," katanya.

Tag : facebook
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top