Geliat DNA Sanata Dharma di Nadi Ketjil Bergerak

DNA humanisme Universitas Sanata Dharma mengalir di dalam urat nadi salah satu komunitas seni dan budaya asal Yogyakarta, Ketjil Bergerak.
Rahmad Fauzan | 12 April 2018 21:55 WIB
Salah satu aktivitas Ketjil Bergerak. - YouTube

Bisnis.com, YOGYAKARTA – DNA humanisme Universitas Sanata Dharma (Sadhar) mengalir di dalam urat nadi salah satu komunitas seni dan budaya asal Yogyakarta yang memfokuskan pandangannya pada kemajuan kehidupan pemuda-pemudi, Ketjil Bergerak.

Ketjil Bergerak bermula dari sebuah zine (media cetak alternatif) kecil di Universitas Sanata Dharma yang muncul untuk pertama kali pada 2006.

Didirikan oleh dua alumni jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma, komunitas ini mampu bertahan dan semakin berkembang serta konsisten dalam menjalankan misinya sebagai agen pendidikan dan kebudayaan di Jogja.

Ketjil Bergerak didirikan oleh Greg Sindana dan Vani pada 2006. Pada 2007 komunitas ini membentuk kelompok diskusi pertama mereka yang berfokus pada seni, filsafat, dan kajian budaya.

Sejak saat itu, Ketjil Bergerak terus konsisten dalam menghasilkan karya-karya yang kian hari kian luas bidang cakupannya. Puncaknya adalah berkolaborasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam acara yang berjudul "Youth Camp 2015: Energi Mudamu, Senjatamu!" pada 2015.

Pada satu pertemuan dengan Greg dan Vani di Kebun Raya Bogor, Vani mengatakan bahwa Ketjil Bergerak tengah menjalankan program pendidikan mereka yang mengajak pemuda-pemudi di Jogja untuk mengetahui sejarah bangunan-bangunan bersejarah di sekitaran Kota Baru di mana KPK masih merupakan kolaborator.

Greg Sindana yang tidak biasa mengenakan celana panjang, saat itu mengenakan celana panjang berbahan dasar kain dengan warna coklat muda. Adapun, Vani yang berkacamata tebal, mengenakan kaos putih bergambar dan rok penuh warna. "Habis dari KPK," ucap Greg menjelaskan mengapa dia memakai celana panjang.

Sekitar jam 3 sore, Greg, Vani, dan saya meninggalkan Kebun Raya Bogor, lalu memesan taksi online untuk mengunjungi kampung Sindangbarang yang berjarak kira-kira 5 km dari Kota Bogor dan merupakan kampung tertua di Nusantara. Namun, karena diburu waktu, kami hanya melihat-lihat sebentar di halaman depan dekat pintu masuk.

Selain bergerak di bidang pengembangan seni, budaya, dan pendidikan, Ketjil Bergerak juga melakukan kegiatan bisnis.

Produk-produk mereka terdiri dari suvenir, baju kaos, dan topi. Sistem penjualannya pun tidak terlepas dari baiknya hubungan kerja sama yang terjalin antara Ketjil Bergerak dengan lembaga, institusi, ataupun organisasi di luar mereka.

Produksi baju kaos mereka pada bulan Oktober tahun 2017 lalu dipesan oleh KPK, seperti yang Vani ungkapkan kepada saya di dalam KRL jurusan Bogor-Manggarai.

Pendapatan komunitas Ketjil Bergerak juga diperoleh dari perannya sebagai media partner yang terbuka untuk berbagai macam kegiatan positif. Ditambah lagi, tidak jarang mereka membangun stand pada bazaar yang diadakan di acara-acara yang menjadikan Ketjil Bergerak sebagai media partner.

Selain KPK, Universitas Sanata Dharma adalah institusi yang menjalin kerja sama yang baik dengan Ketjil Bergerak. Termasuk pada saat berkolaborasi dalam rangkaian acara berjudul "Berbeda Itu Biasa!" yang diselenggarakan pada November-Desember 2014.

"Ketjil Bergerak itu sangat menjunjung tinggi prinsip humanis Driyarkara [guru besar filsafat di Universitas Indonesia dan IKIP Sanata Dharma, wafat awal 1967]," kata Greg hampir 4 tahun silam di sebuah rumah kontrakan di Kaliwaru, Condong Catur, Yogyakarta.

"Pokoknya, Ketjil Bergerak itu Sadhar bangetlah!", lanjutnya.

Tag : pendidikan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top