Mark Zuckerberg Minta Maaf Atas Skandal Penyalahgunaan Data Facebook

Facebook meminta maaf atas skandal penyalahgunaan data 50 juta penggunanya.
Annisa Margrit | 22 Maret 2018 09:36 WIB
CEO Facebook Mark Zuckerberg - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Facebook meminta maaf atas skandal penyalahgunaan data 50 juta penggunanya.

Seperti dilansir dari Reuters, Kamis (22/3/2018), dalam sebuah wawancara dengan CNN, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengakui telah terjadi pelanggaran kepercayaan yang besar.

"Ini adalah sebuah pelanggaran kepercayaan yang besar. Saya sangat menyesalkan peristiwa ini. Kami memiliki tanggung jawab dasar kepada para pengguna untuk melindungi data mereka," ujarnya.

Perusahaan yang berbasis di AS itu mengatakan seharusnya tidak mempercayai klaim Cambridge Analytica tentang penghapusan data para pengguna Facebook. 

Zuckerberg mengatakan Facebook berkomitmen untuk tidak ikut campur dalam Pemilu AS yang akan digelar pada November 2016 serta Pemilu di India dan Brazil.

India akan menyelenggarakan Pemilu legislatif pada tahun ini dan Pemilu presiden pada 2019. Sementara itu, Brazil dijadwalkan menggelar Pemilu untuk memilih presiden serta anggota legislatif pada Oktober 2018.

Zuckerberg melanjutkan dirinya meyakini ada pihak-pihak yang ingin ikut campur dalam Pemilu menggunakan Facebook. Dia menambahkan dirinya terbuka jika Pemerintah AS akan menerapkan kebijakan khusus dan siap bersaksi di depan Kongres AS jika diperlukan.

"Saya tidak yakin kalau Facebook tidak perlu diatur. Saya pikir pertanyannya adalah regulasi apa yang tepat dibandingkan apakah perlu diregulasi atau tidak. Publik harus tahu siapa yang membeli iklan yang mereka lihat di Facebook," papar Zuckerberg.

Media sosial terbesar dunia itu juga mengungkapkan akan melakukan audit data sebelum 2014 untuk mengkaji kembali ribuan aplikasi dari pihak ketiga.

Perusahaan itu telah kehilangan lebih dari US$45 miliar dalam valuasi pasar setelah skandal yang melibatkan Cambridge Analytica dan kampanye Donald Trump dalam Pemilu presiden AS pada 2016 terkuak. Peristiwa itu juga membuat AS dan negara-negara Eropa memanggil para petinggi Facebook untuk menjelaskan sistem keamanan mereka.

Sumber : Reuters

Tag : facebook
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top