Jadi Negara Sorotan Pasar Global, Ini Perbedaan Strategi Trump dan Xi Jinping

Setiap episode yang terjadi antara dua negara ekonomi terbesar di belahan Pasifik memperlihatkan perbedaan strategi yang diambil oleh masing-masing pemerintah.
Dwi Nicken Tari | 18 Maret 2018 16:15 WIB
Presiden AS Donald Trump berinteraksi dengan Presiden China Xi Jinping di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, AS, 6 April 2017. - .Reuters/Carlos Barria TPX

Kabar24.com, JAKARTA - Setiap episode yang terjadi antara dua negara ekonomi terbesar di belahan Pasifik memperlihatkan perbedaan strategi yang diambil oleh masing-masing pemerintah.

Di sebelah timur, Presiden China Xi Jinping menunjuk pejabat yang dapat mengatur ulang aturan secara global di masa depan. Sementara itu di sebelah barat, Presiden AS Donald Trump masih menggonta-ganti tim papan atasnya selama 14 bulan terakhir.

Di Beijing, Presiden Xi Jinping melakukan perombakan besar-besaran terhadap jajaran pejabat diplomatiknya. Upaya itu dilakukan agar penyebaran pengaruh China lebih terdistribusi dengan baik, sehingga rencana sedekade Negeri Panda yang ingin mendapatkan status kekuasaan lebih tinggi di ranah global dapat tercapai.

Hal berbeda terjadi di Washington di mana Presiden Donald Trump malah memecat diplomatnya lewat akun Twitter dan menimbulkan kekacauan antara Gedung Putih dengan Departemen Luar Negeri AS. 

Baru-baru ini, Trump mengangkat Direktur CIA Mike Pompeo sebagai menteri sekretaris negaranya. Pompeo dipandang berada dalam frekuensi yang sama dengan pemikiran Trump, termasuk dalam upaya mencegah “ancaman dari China”. Selain itu, Trump juga telah menarik Paman Sam keluar dari pakta perdagangan bebas dan mengancam beberapa mitranya dengan sejumlah tarif.

Analis kebijakan China untuk Gavekal Dragonomics di Beijing, Yanmei Xie menjelaskan, Xi Jinping telah memperjelas bahwa China siap untuk memberikan pengaruh di panggung global. Langkahnya adalah dengan memperlihatkan model pemerintahan China untuk dijadikan pertimbangan bagi negara lain, khususnya sebagai alternatif untuk pemerintahan liberal ala barat. 

“Sejauh ini, kesulitannya adalah untuk memahami apakah ada strategi yang solid dari tim Trump, jika mereka bisa disebut tim,” katanya seperti dikutip Bloomberg, Minggu (18/3/2018).

Adapun, rencana restrukturisasi kabinet yang diperkenalkan kepada legislatif rubber-stamp China pekan lalu juga memperkenalkan adanya program bantuan konsolidasi untuk luar negeri. 

Pemerintah China akan memberikan tugas itu untuk Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri di bawah suatu badan, yang mana badan ini merupakan model yang mereka ambil dari mencontoh U.S. Agency for International Development (USAID).

Pemerintah Negeri Panda berharap perubahan ini dapat membuat koordinasi pendanaan investasi Belt and Road Initiatives dari Jinping menjadi lebih baik dan terstruktur.

Di bawah pemerintahan Jinping, Partai Komunis China telah menyisihkan strategi jangka panjang, yaitu untuk menyembunyikan kekuatan dan menunggu waktu yang tepat untuk tampil di panggung global. 

Seperti diketahui, Jinping telah meminta untuk memeriksa pejabat-pejabat di Kementerian Luar Negeri pada bulan lalu. Kemudian, pemerintah China juga melarang pergantian diplomat di kedutaan besarnya tahun depan agar memberikan kontrol yang lebih besar terhadap portofolio bagi duta besar.

Langkah itu diambil dengan tujuan agar China memiliki pemain yang efektif di lingkungan global. Selain itu, China juga telah meluncurkan rencana untuk membangun fasilitas pesawat terbang di luar negeri untuk meluaskan jangkauan militernya.

Merespons langkah Negeri Panda tersebut, pemerintahan Trump melabeli China sebagai “kompetitor strategis”-nya di dalam dokumen strategi baru-baru ini. Paman Sam mendesak agar komunitas global segera bereaksi dengan lebih terkoordinasi mengenai langkah China tersebut.

Akan tetapi, permintaan Trump itu belum mendapat respons yang optimal lantaran kebijakan-kebijakannya yang banyak mengkritisi pakta perdagangan global dan keamanan nasional, mengancam untuk memotong bantuan asing, dan kebijakan perdagangan yang merugikan mitra tradisional AS lebih banyak ketimbang China sendiri. 

Bahkan, perubahan kedudukan di Gedung Putih, seperti keluarnya Menteri Luar Negeri Rex Tillerson dan penasihat ekonomi Gary Cohn bulan ini, semakin menyulitkan upaya Paman Sam untuk berkoordinasi dengan mitranya melalui langkah-langkah strategis tersebut.

Sekadar informasi, Tillerson didepak beberapa jam setelah kembali lebih awal dari perjalanannya ke Afrika, di mana dia mempromosikan kebijakan kemitraan pemberi pinjaman publik-perorangan milik AS sebagai alternatif dari pinjaman dari China. 

Di sisi lain, dalam beberapa hari ke depan, Jinping diharapkan untuk membentuk tim kebijakan perekonomian dan kebijakan luar negeri yang terdiri dari pejabat-pejabat yang memiliki pengalaman tentang kebijakan AS.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang mengapresiasi Tillerson sebagai upaya untuk meningkatkan hubungan dan mengatakan bahwa negaranya akan bekerja dengan Pompeo untuk “mengatur perbedaan yang ada”.

“Kami berharap perubahan personil ini tidak akan berpengaruh terhadap hubungan China dan AS,” kata Lu Kang pekan lalu di Beijing.

Tag : china, amerika serikat, xi jinping, Donald Trump
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top