Sri Lanka Segera Cabut Pemblokiran Media Sosial

Sri Lanka akan mencabut larangan penggunaan media sosial pada pekan ini, setelah ketentuan itu diterapkan untuk membatasi penyebaran konten mengenai kekerasan dan memicu aksi kekerasan lainnya.
Annisa Margrit | 14 Maret 2018 15:26 WIB
Wisatawan asing berjalan di antara toko-toko yang tutup setelah konflik antara warga Buddha dan Muslim berlangsung di Kandy, Sri Lanka pada Kamis (8/3). - Reuters/Dinuka Liyanawatte

Bisnis.com, JAKARTA -- Sri Lanka akan mencabut larangan penggunaan media sosial pada pekan ini, setelah ketentuan itu diterapkan untuk membatasi penyebaran konten mengenai kekerasan dan memicu aksi kekerasan lainnya.

Sejak awal bulan ini, negara di Asia Selatan itu dilanda gelombang aksi kekerasan terutama antara penganut Buddha dan warga Muslim. Setidaknya dua orang tewas setelah penduduk Buddha marah karena adanya pembunuhan terhadap seorang supir, lalu menyerang sejumlah masjid dan properti yang dimiliki warga Muslim di distrik Kandy.

Reuters melansir Rabu (14/3/2018), beberapa aksi kekerasan yang terjadi dipicu oleh unggahan di Facebook yang mengancam akan dilakukan lebih banyak serangan terhadap penduduk Muslim. Aksi kekerasan yang terjadi pun membuat pemerintah setempat memberlakukan jam malam selama beberapa waktu.

Pada Rabu (7/3), Pemerintah Sri Lanka menutup akses ke Facebook, Viber, dan WhatsApp. Meski awalnya disebutkan larangan itu hanya diberlakukan selama 3 hari, tapi pengguna mengatakan layanan tersebut masih diblokir hingga saat ini.

Menteri Telekomunikasi Sri Lanka Harin Fernando menyampaikan pejabat senior Facebook dijadwalkan mengunjungi Sri Lanka pada Kamis (15/3).

"Setelah kami mendiskusikan hal ini dengan Facebook, pemblokiran kemungkinan dilakukan pada Jumat (16/3)," ujarnya.

Sementara itu, Viber akan dibuka kembali pada Kamis (15/3).

Fernando melanjutkan pihaknya akan terus memantau ujaran kebencian yang disebarkan di media sosial yang dapat merusak harmonisasi etnis. Ujaran kebencian disebut telah menjadi ancaman besar bagi keamanan nasional.

Perselisihan antara kelompok Buddha dan Muslim berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Warga Buddha menuding penduduk Muslim melakukan Islamisasi dan merusak situs-situs arkeologis Buddha. Hal ini dibantah oleh penduduk Muslim.

Adapun Kandy adalah salah satu daerah pariwisata andalan Sri Lanka dan kota terbesar kedua setelah Kolombo. Wisatawan asing biasanya mendatangi daerah itu untuk mengunjungi kuil-kuil Buddha berusia tua. 

Sumber : Reuters

Tag : media sosial
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top