Aksi Korporasi Jateng : Bentuk Kepemilikan Perusahaan Jadi Persoalan Terbesar

Kecilnya jumlah perusahaan asal Jawa Tengah yang melakukan aksi korporasi terutama aksi penawaran umum perda (IPO), disebabkan oleh banyaknya perusahaan yang dimiliki oleh keluarga.
Yustinus Andri DP | 11 Maret 2018 15:18 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (12/2/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Kabar24.com, SEMARANG—Kecilnya jumlah perusahaan asal Jawa Tengah yang melakukan aksi korporasi terutama aksi penawaran umum perda (IPO), disebabkan oleh banyaknya perusahaan yang dimiliki oleh keluarga.

Kepala Kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Semarang Fanny Rifqi el Fuad mengatakan, bentuk kepemilikan perusahaan tersebut membuat mayoritas korporasi di Jateng enggan membuka perusahaannya kepada publik.

Pasalnya para pemilik perusahaan tersebut biasanya menginginkan struktur kepemilkan saham hanya dikuasai oleh keluarga atau anak-anaknya.

“Kebanyakan perusahaan di sini adalah perusahaan keluarga. Untuk itu kami berusaha memberikan edukasi dan sosialisasi, bahwa banyak manfaat yang diperoleh jika mereka go public,” kata Fanny, Minggu (11/3).

Berdasarkan catatan BEI Semarang, di Jawa Tengah saat ini hanya terdapat empat perusahaan yang telah melantai di bursa saham. Mereka adalah PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, PT Prima Cakrawala Abadi Tbk, PT Sri Rejeki Isman Tbk dan PT Dua Putra Utama Makmur Tbk.

Untuk itu, Fanny mengaku telah menggandeng sejumlah asosiasi perusahaan seperti Real Estate Indonesia (REI), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng untuk terus mensosialisasikan pentingnya melantai di bursa saham.

Pasalnya, IPO dapat menjadi solusi sekaligus antisipasi persoalan di masa depan yang disebabkan oleh bentuk perusahaan keluarga.

Menurutnya, perusahaan kelurga, terutama yang disiapkan untuk diwariskan ke anak-anaknya oleh pemilik perusahaan pertama, berpeluang menciptakan konflik antarkeluarga. Selain itu, perusahaan juga akan lebih mudah mendapatkan akses pendanaan jika membutuhkan.

“Kami belum ada target berapa perusahaan yang harus IPO di Jateng. Namun kami berusaha semaksimal mungkin supaya jumlah yang ada saat ini bertambah. Terutama jika melihat komposisi sektor usaha yang mendominasi Jateng saat ini yang sangat prospektif,” lanjutnya.

Fanny menjabarkan, perusahan dengan nilai kapitalisasi yang besar di Jateng sejauh ini bergerak di sektor manufaktur. Bisnis tersebut a.l. bergerak di sektor consumer goods, obat-obatan dan industri pengolahan seperti ikan dan kayu.

Adapun sebelumnya, Kepala Divisi Pengembangan Calon Emiten BEI Umi Kulsum mengatakan bahwa aksi IPO akan membuat pendiri perusahaan kehilangan kendali atas korporasinya. Di lain sisi, keputusan go public tersebut akan mendorong penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good governance corporate/GCG).

Sementara itu, Fanny menyebutkan bahwa pertumbuhan jumlah investor di Semarang terus mengalami kenaikan secara signifikan. Pada 2017 lalu, jumlah investor telah naik 14.000 atau tumbuh 30% secara year on year (yoy) menjadi sekitar 48.000 investor. Khusus untuk tahun ini sendiri, jumlah investor telah tumbuh menjadi sekitar 58.000.

Nilai transaksi harian pada 2017 lalu pun mencapai Rp30 miliar-Rp40 miliar atau naik 20% dari tahun sebelumnya. Hal itu membuat Semarang masuk dalam 10 besar dan menempati posisi ke-6 sebagai kota dengan nilai transaksi harian dan jumlah investor terbesar di Indonesia.

Tag : pasar modal, jateng, Aksi Korporasi
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top