Barat Ingin Jatuhkan Sanksi ke Iran. Rusia Siapkan Payung Perlindungan

Pihak Barat dan Rusia sedang berebut pengaruh terkait Iran. Negara-negara barat ingin PBB menjatuhkan sanksi, sebaliknya Rusia siap memberikan perlindungan berupa veto jika negeri para Mullah itu diusik.
Newswire | 26 Februari 2018 16:35 WIB
Gambar diambil dari video yang dibagikan oleh stasiun televisi Yaman pro-Houthi Al Masirah, Minggu (5/11/2017), memperlihatkan apa yang dikatakan sebagai peluncuran rudal balistik oleh pasukan Houthi yang ditujukan ke Bandara King Khaled di Riyadh. - Houthi Military Media Unit via REUTERS TV

Kabar24.com, PBB - Pihak Barat dan Rusia sedang berebut pengaruh terkait Iran. Negara-negara barat menyiapkan teguran, sebaliknya Rusia siap memberikan perlindungan berupa veto jika negeri para Mullah itu diusik.

Rusia meletakkan dasar bagi peluang memberikan veto pada Senin untuk sebuah upaya Inggris, Amerika Serikat dan Prancis agar Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menegur Iran karena senjata-senjatanya jatuh ke tangan kelompok Houthi di Yaman.

Dewan Keamanan beranggotakan 15 negara harus memperbarui sanksi yang ditargetkan di Yaman pada Senin. Rusia telah mengusulkan sebuah resolusi saingan yang hanya akan memperpanjang mandat rezim tersebut selama satu tahun dan tidak menyebut Iran.

Amerika Serikat telah melobi selama berbulan-bulan agar Iran dapat dimintai pertanggungjawaban oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Paat yang sama, Iran mengancam untuk keluar dari kesepakatan 2015 yang disepakati oleh negara-negara kekuatan dunia untuk mengekang program nuklirnya jika "gangguang yang merusak" tidak diperbaiki.

Inggris merancang sebuah resolusi dalam konsultasi dengan Amerika Serikat dan Prancis yang pada awalnya ingin mengutuk Iran karena telah melanggar embargo senjata terhadap para pemimpin Houthi. Dalam hal ini termasuk sebuah komitmen Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk mengambil tindakan atas aksi itu.

Rancangan terbaru Inggris itu tidak memasukkan kecaman dan sebaliknya mengungkapkan kekhawatiran bahwa pakar PBB yang memantau sanksi tersebut melaporkan bahwa Iran telah melanggar embargo senjata yang ditargetkan dengan tidak menghentikan peluru kendali dan kendaraan udara tak berawak yang mencapai wilayah Houthi.

Sebuah perang sedang berlangsung di Yaman antara Iran dan sekutu Amerika Serikat, Arab Saudi. Koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi di Yaman pada 2015, mendukung pasukan pemerintah yang memerangi pemberontak Syiah dukungan Iran. Di sisi lain, Iran membantah memasok senjata kepada kelompok Houthi.

Sebuah resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa membutuhkan sembilan suara yang mendukung dan tidak ada hak veto dari Rusia, China, Amerika Serikat, Prancis atau Inggris untuk disahkan.

Kedua resolusi tersebut berusaha memperbarui larangan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk memasok senjata kepada para pemimpin Houthi dan "mereka yang bertindak atas nama mereka atau perintah mereka."

Resolusi ini juga dapat membuat daftar hitam individu dan entitas yang mengancam perdamaian dan stabilitas Yaman atau menghalangi akses bantuan.

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Nikki Haley membawa rekan-rekan Dewan Keamanannya ke Washington pada Januari untuk melihat potongan-potongan peluru kendali yang ditembakkan kelompok Houthi ke Arab Saudi. Hal itu dilakukan Haley dalam upaya meningkatkan kasus Amerika Serikat melawan Iran.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengatakan setelah kunjungan tersebut dia tidak percaya ada kasus untuk tindakan PBB melawan Iran.

Sementara itu, Iran menggambarkan senjata yang dipajang di Washington sebagai "palsu".

Sumber : Antara/Reuters

Tag : as, iran, rusia
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top